hut

Musim Panen Udang, Permintaan Es Balok Meningkat

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Musim panen udang putih atau vaname di pesisir Lampung Selatan, memicu peningkatan kebutuhan es balok. Para penyedia es mendapatkan permintaan es cukup banyak.

Herman, penyedia es balok sekaligus jasa penggilingan es di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung selatan menyebut, stok es habis dalam dua hari. Pada kondisi normal, stok 40 balok es biasanya baru habis dalam waktu sepekan. Musim kemarau, yang berimbas pada peningkatan kadar garam, membuat petambak banyak yang memilih panen dini. Pemanenan dilakukan saat ukuran udang mencapai 100 meski baru memasuki usia 65 hari.

Pada kondisi normal, udang vaname bisa dipanen di usia 75 hari, dengan size 75. Ukuran tersebut untuk memenuhi pangsa pasar restoran. Akibat panen dini, ukuran  udang baru masuk kelas paris atau pasar tradisional. Panen dini membuat petambak membutuhkan es balok dalam jumlah banyak. Es balok dipakai untuk menjaga kesegaran udang dalam proses pengiriman. Satu balok es berukuran kurang dari satu meter, bisa dipergunakan untuk menyimpan 50 kilogram udang.

Sebelum dipakai untuk menjaga kesegaran udang, es balok digiling memakai alat khusus. “Umumnya petambak membeli es sekaligus digiling, agar udang yang akan dikirim bisa lebih segar dengan butiran es yang lebih lembut, namun bagi nelayan yang akan melaut memilih membeli dalam bentuk balok, agar lebih awet saat dipakai melaut,” terang Herman kepada Cendana News tengah saat sedang melayani konsumen, Rabu (18/9/2019).

Rudi,salah satu penjual es balok di Dusun Muara Piluk Desa Bakauheni Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan mengalami peningkatan permintaan saat kemarau – Foto Henk Widi

Satu balok es dijual Rp35.000. Sementara upah menggiling Rp5.000. Rata rata petambak dalam sekali panen membeli dua hingga empat balok es sesuai kebutuhan. Dalam sepekan, Herman yang mendapatkan pasokan es balok dari pabrik di wilayah Kalianda, mendapatkan kiriman 80 hingga 90 balok es.

Pemilik usaha penjualan es lain, Rudi, warga Muara Piluk menyebut, es balok didatangkan dari Banten. 50 balok es dikirim dengan kendaraan ekspedisi pisang. “Permintaan banyak berasal dari nelayan bagan congkel, bagan apung dan nelayan pancing untuk menjaga kesegaran ikan,” tuturnya.

Satu balok es dijual oleh Rudi Rp30.000. Rata-rata kebutuhan satu perahu adalah dua balok es. Sebagian es dibawa oleh pengepul udang vaname, yang akan membeli udang dari petambak. Udin, pengepul udang menyebut, es balok untuk upaya pengawetan udang. Penggunaan es karena belum adanya mobil coldstorage. Pada masa panen di wilayah Bakauheni, Udin membutuhkan empat balok es. “Es bisa mencegah udang membusuk karena setelah proses penimbangan es masuk coolbox dan dikirim ke Jakarta dan Banten,” pungkas Udin.

Lihat juga...