hut

Paduan suara SMAK Frateran Tampil Memukau di Festival Lamaholot

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LARANTUKA — Frador Voice SMAK Frateran Podor, Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT terlihat memukau dalam membawakan 3 lagu di pembukaan festival Lamaholot di desa Bantala kecamatan Lewolema, Flores Timur.

Dalam pagelaran di hari pertama dari lima hari penyelenggaraannya, berbagai tarian dan musik ditampilkan. Salah satu peserta yang tampil berasal dari anak-anak sekolah SMAK Frateran Podor Larantuka.

“Kami senang sekali menyaksikan anak-anak SMAK Frateran Podor menyanyi. Mereka sangat bagus membawakan lagu dan tarian sebab jarang sekali paduan suara tampil bagus menyanyi sambil menari,” kata Yohana Erniwati, salah seorang penonton, Kamis (12/9/2019).

Erni sapaannya mengaku sudah dua kali menonton paduan suara ini tampil. Pertama paduan suara ini tampil di gedung OMK Keuskupan Larantuka usai meraih juara di Bali.

“Sangat bagus apalagi mereka merupakan anak-anak sekolah. Ini bisa memotivasi sekolah lainnya di Flores Timur agar bisa meraih prestasi serupa apalagi anak-anak kita suaranya bagus hanya perlu dilatih olah vokal saja,” tuturnya.

Maria Renha Rosari Putri Dore, guru sekaligus pendamping penari SMAK Frateran Podor Larantuka saat ditemui Cendana News usai pentas mengatakan, pihak sekolah bangga dengan prestasi yang diraih anak didiknya.

“Kalau di Bali International Choir kami membawakan empat lagu. Sementara di festival Lamaholot kami membawakan tiga lagu. Karena ini festival Lamaholot maka lagu ketiga kami bawakan dari Larantuka,” terangnya.

Lagu pertama yang dibawakan juga di Bali Internatinal Choir kata Renha sapaan karibnya, berjudul Cikalele Pom Pom dari Sumatera. Lagu kedua berasal dari Papua berjudul Yamko Rambe Yamko.

“Lagu ketiga judulnya Lui E dari Larantuka Flores Timur. Ada 38 anggota paduan suara kami dimana laki-laki 15 orang sedangkan perempuan 23 orang,” terangnya.

Frador Voice kata Renha, tidak menggunakan alat musik, hanya acapela. Busana yang dikenakan merupakan modifikasi karena menyanyikan lagu Papua sehingga ada rumbai-rumbainya.

“Kami latihan selama 10 bulan setiap hari tanpa libur, latihan pagi dan sore minimal 2 jam. Kami melatih secara marathon sehingga sangat capek sekali,” tuturnya.

Gusti Nasurat, pelatih pendamping dan konduktor untuk folkfore menambahkan, dengan keterbatasan awalnya pihaknya mencoba melatih satu lagu saja dari konduktor asal SMAK Frateran Maumere pak Blasius.

“Selama 10 bulan melatih sendiri dan dalam perjalanan dilatih pak Blas. Kita melatih banyak orang jadi harus banyak sabar. Kadang-kadang kondisi anak-anak drop dan kadang guru-guru,” ujarnya.

Para guru juga tambah Aci sapaannya, harus mengorbankan mengajar dan semuanya.

“Justru setelah kita mendapatkan prestasi juara di Bali, kami lebih sulit untuk mempertahankannya. Dalam melatih kami lebih kepada pengembangan diri anak-anak didik,” terangnya.

Selain itu lanjut Aci, bagaimana para peserta paduan suara bekerjasama dalam tim dan menghormati satu sama lain. Juga disiplin sangat penting karena paduan suara menuntut disiplin.

“Disiplin sangat penting baik dari segi waktu dan ketepatan nada. Semuanya menuntut harus disiplin,” pungkasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!