Pasokan Minim Picu Naiknya Harga Ikan Teri di Lampung Selatan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Cuaca yang kurang bersahabat menyebabkan hasil tangkapan nelayan bagan congkel dan bagan apung di pesisir Lampung Selatan, sangat minim. Hal ini pun memicu melonjaknya harga ikan teri di pasaran.

Nurpendi, pekerja pembuatan teri rebus di Muara Piluk, Bakauheni, menyebut, pasokan bahan baku berkurang membuat produksi menurun. Pada kondisi normal, sehari pasokan ikan teri bisa mencapai 50 cekeng atau 750 kilogram ikan teri. Saat musim panen ikan produksi bisa mencapai 80 cekeng atau lebih dari 1.000 kilogram.

Minimnya bahan baku tersebut membuat harga teri dan ikan asin naik. Jenis teri jengki super semula dijual Rp38.000 naik menjadi Rp42.000, ikan jengki sedang semula Rp36.000 naik menjadi Rp40.000, ikan pepirik semula Rp10.000 menjadi Rp15.000, ikan tanjan semula Rp13.000 naik menjadi Rp15.000, ikan tudak semula Rp8.000 naik menjadi Rp12.000 dan cumi asin semula Rp80.000 naik menjadi Rp100.000 per kilogram.

Menurut Nurpendi, bahan baku yang kurang itu terjadi karena fase bulan purnama sepekan sebelumnya. Fase tersebut berlanjut dengan angin Selatan dan Barat yang mengakibatkan nelayan enggan melaut.

Pasokan bahan baku teri dan ikan asin sebagian diperoleh dari tempat pelelangan ikan (TPI) wilayah Lampung Timur. Meski pasokan masih ada, namun produksi berkurang dibandingkan kondisi normal. Jenis ikan teri yang diolah merupakan ikan teri sore yang kualitasnya lebih rendah.

“Kualitas ikan teri yang disandarkan pada pagi hari lebih segar dan lebih mahal harganya, namun karena tangkapan minim untuk jenis teri jengki kami produksi yang ada,” ungkap Nurpendi, Senin (23/9/2019).

Harga bahan baku teri jengki, menurut Nurpendi, sudah naik sejak dibeli dari nelayan. Pada kondisi normal, satu cekeng berisi 15 kilogram ikan teri basah bercampur bahan ikan asin dibeli seharga Rp220.000. Sebelumnya, harga ikan teri basah hanya mencapai Rp170.000 per cekeng.

Kenaikan harga bahan baku dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Selain itu, kenaikan harga teri dan ikan asin berkat kualitas ikan yang dihasilkan lebih bagus selama kemarau.

Nurpendi menyebut, saat kemarau proses pengeringan sempurna ikut meningkatkan kualitas ikan. Pada musim penghujan, produksi teri dan ikan asin kerap mengalami penurunan kualitas.

Pada musim penghujan, pengeringan teri membutuhkan waktu sekitar 5 hari. Sementara pada musim kemarau pengeringan lebih sempurna dengan waktu hanya sekitar 2 hari.

“Saat penghujan, teri dan ikan asin yang dihasilkan kerap berjamur sehingga harga jual rendah, sementara saat kemarau pengeringan sempurna,” ungkap Nurpendi.

Bahan baku teri basah sekitar 750 kilogram, menurutnya hanya mendapatkan hasil sekitar 500 kilogram setelah proses penyortiran. Sebelum dijemur, teri dan ikan asin harus direbus menggunakan garam. Proses perebusan menggunakan garam sekaligus menjadi cara pengawetan. Dengan penggunaan garam, teri dan ikan asin bisa bertahan lebih dari tiga bulan dengan penyimpanan sempurna.

Selain mendapatkan teri jengki, pada proses penyortiran pekerja kerap mendapatkan beberapa jenis ikan asin. Di antaranya ikan kembung, pepirik, tudak, tanjan dan cumi-cumi.

Hasil tambahan tersebut kerap dijual ke sejumlah warung dan teri kering dikirim ke Banten dan Jakarta. Ikan teri kering yang sudah disortir akan dikemas dalam ukuran 10 kilogram.

Usman, salah satu pekerja pembuatan ikan teri rebus mengungkapkan, minimnya bahan baku menyebabkan pembuatan lebih cepat. Usai proses perebusan, penjemuran dilakukan di para-para, senoko dalam waktu sehari penuh. Saat kondisi cuaca panas terik sejak tiga bulan terakhir, penjemuran hanya butuh waktu dua hari. Pekerja juga tidak disulitkan memasang terpal seperti pada saat musim penghujan.

“Musim kemarau penjemuran lebih cepat dilakukan, namun bahan baku berkurang sehingga harga naik,” ungkap Usman.

Selain menjual teri dan ikan asin, dari proses produksi dihasilkan jenis ikan asin sampah. Ikan asin sampah merupakan ikan yang sudah rusak dan tidak masuk sortiran.

Jenis ikan tersebut selanjutnya dikumpulkan dan dijual ke pemilik usaha ternak bebek dan pemilik tambak. Ikan asin sampah bisa digunakan sebagai campuran pakan dengan harga Rp50.000 berisi 30 kilogram.

Lihat juga...