hut

Pasokan tak Stabil, Tantangan Pengembangan Industri Singkong

CIBINONG – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa pasokan bahan baku yang tidak stabil menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan industri umbi-umbian sebagai bahan pangan untuk ketahanan pangan nasional.

“Masalahnya karena pasokan bahan baku yang belum stabil,” kata peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Ahmad Fathoni, dalam pemaparannya di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa.

Kemudian, ia juga menyebutkan bahwa kualitas bahan baku yang belum memenuhi kebutuhan industri pengguna juga menjadi tantangan lain.

Tantangan selanjutnya adalah proses produksi dan peralatan produksi pada industri pengolahan tepung ubi kayu dan umbi lainnya di skala UKM yang belum memenuhi standar.

Selain itu, riset produk yang menggunakan bahan baku tepung ubi kayu dan umbi lainnya juga masih terbatas, selain juga liberalisasi perdagangan internasional melalui skema perjanjian perdagangan bebas yang dapat mendorong naiknya impor tepung seperti tapioka dan pemanis.

Sementara itu, pengembangan umbi-umbian secara umum, kata dia, juga masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat Indonesia.

“Industri ubi umbi kayu selain tapioka memang belum banyak dilirik,” tambahnya.

Namun, industri tepung saat ini, katanya, menjadi salah satu prioritas industri pangan Indonesia sampai 2024.

Oleh karena itu, LIPI mencoba mengembangkan varietas unggul singkong yang memiliki gizi tinggi sebagai jawaban atas tantangan-tantangan saat ini sehingga dapat juga mendukung ketahanan pangan.

Mereka berharap, dengan terangkatnya peran strategis ubi kayu yang berkualitas dalam pengembangan pangan Indonesia, maka akan terangkat juga kesejahteraan petani lokal.

“Petani jangan hanya digenjot, tetapi juga harus sejahtera,” katanya. (Ant)

Lihat juga...