hut

Pelanggaran Operasi Patuh Progo, Didominasi Usia Kurang 17 Tahun

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Penggunaan telepon genggam selama berkendara menjadi salah satu temuan pelanggaran yang paling banyak ditemui selama pelaksanaan Operasi Patuh Progo 2019 di wilayah kabupaten Slemen beberapa waktu lalu.

Kepolisian Resor Sleman, menyebut, selama kurang lebih 10 hari pelaksanaan Operasi Patuh Progo sejak 29 Agustus hingga 11 September 2019 lalu, tercatat ada sekitar 25 ribu pelanggaran yang dilakukan pengendara. 11 ribu pengendara misalnya,  dilakukan tindakan teguran.

“Dari jumlah itu, pelanggaran paling banyak dilakukan pengendara di bawah umur 17 tahun. Seperti tidak memakai helm, melawan arus, hingga memakai HP saat berkendara,” ujar Kanit Digyasa Satlantas Polres Sleman, IPTU Gembong Widodo, Minggu (15/9/2019).

Jumlah temuan pelanggaran selama Operasi Patuh Progo tahun 2019 ini, dikatakan meningkat dibandingkan temuan tahun 2018 lalu yang hanya mencapai sekitar 13 ribu saja. Hal itu berarti dapat dikatakan tingkat kesadaran masyarakat untuk tertib berlalulintas saat ini semakin menurun.

“Selama Operasi Patuh Progo kita juga menahan sejumlah kendaraan. Kendaraan ini kita tahan karena mayoritas karena belum membayar pajak. Selain itu kita juga menahan sejumlah STNK maupun SIM,” katanya.

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam berlalulintas sendiri, pihak Satlantas Polres Sleman, selama ini telah secara rutin melakukan sejumlah sosialisasi ke masyarakat. Termasuk juga kepada anak-anak sekolah yang masih di bawah umur. Baik itu dengan memberikan pemahaman kepada orang tua maupun kepada pelajar sekolah.

“Kebanyakan yang kita temui anak-anak sekolah ini biasanya patuh saat ada operasi saja. Sementara saat operasi berakhir mereka kembali melakukan pelanggaran. Sehingga memang yang harus diubah adalah mindset generasi muda. Bahwa berkendara itu bukan untuk gaya-gayaan tetapi sebagai sarana transportasi. Sehingga harus tertib berlalulintas,” pungkasnya.

Lihat juga...