Pendidik Diminta Jangan Hanya Berorasi di Depan Kelas

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Sutrisna Wibawa menyerahkan piagam gelar doktor honoris causa (HC) bidang Manajemen Pendidikan Karakter Berbasis Budaya kepada Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan HB X di Gedung Auditorium UNY, Kamis. Rapat Senat Terbuka Penganugerahan gelar Doktor HC untuk Sultan HB X berlangsung di Auditorium UNY - Foto Ant

YOGYAKARTA – Pendidik dituntut tidak hanya melakukan mentransfer ilmu, atau sekadar berorasi di depan kelas. Mereka harus mampu menyiapkan siswa menghadapi tantangan kompetisi di era Revolusi Industri 4.0.

“Satuan pendidikan harus menyiapkan kompetensi yang diperlukan dalam menghadapi Industri 4.0,” kata Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, saat menyampaikan orasi ilmiah, dalam acara penganugerahan gelar doktor Honoris Causa (HC) Bidang Manajemen Pendidikan Karakter Berbasis Budaya di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (5/9/2019).

Sebagai pendidik, harus memiliki tanggung jawab untuk membawa siswanya bertahan pada kehidupan yang akan datang. Upayanya dilakukan dengan memberikan skill masa depan, karena Revolusi Industri 4.0 muncul dengan menekankan pembaruan serba teknologi. HB X mengatakan, Revolusi Industri 4.0 atau Revolusi Industri Generasi ke empat, menitikberatkan pola digitalisasi dan otomasi di semua aspek kehidupan manusia.

Sayangnya, Dia menilai, saat ini banyak pihak yang belum menyadari adanya perubahan tersebut, terutama di kalangan pendidik. “Padahal semua itu adalah tantangan generasi muda atau generasi milenial saat ini, yang harus dibimbing dan diarahkan oleh para pendidik kita,” tandas HB X.

Skill masa depan yang perlu dimiliki para siswa menghadapi pembaharuan serba teknologi, di antaranya pola digital economy (digitalisasi ekonomi), artificial intelligence (kecerdasan buatan), big data (data dalam skala besar), robotic (pemakaian robot sebagai tenaga kerja).

Oleh sebab itu, menghadapi Revolusi Industri 4.0, para pendidik saat ini dituntut untuk mampu melahirkan subjek didik yang terus menjadi manusia pembelajar. “Tentunya pola pendidikan Jadoel, kini menjadi kurang relevan untuk diterapkan pada generasi sekarang yang terkena dampak langsung Revolusi Industri 4.0,” kata Gubernur yang juga Raja Keraton Yogyakarta tersebut.

Tanggung jawab para pendidik juga diperlukan, mengingat dampak dari Revolusi Industri 4.0 diprediksi akan menghilangkan beberapa jenis pekerjaan. Mereka digantikan sistem komputerisasi atau digitalisasi. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh McKinsey Global Institute di 46 negara, ditemukan lebih dari 800 juta pekerjaan akan tergantikan dengan adanya automasi. “Hal ini menjadi tantangan dari para generasi muda dan lembaga pendidikan ke depan. Karena itulah sistem pendidikan juga harus mampu menyesuaikan dengan kondisi ini,” tandas HB X. (Ant)

Lihat juga...