hut

Pengelolaan Toga Masyarakat di DIY Tidak Fokus

Editor: Mahadeva

YOGYAKARTA – Kurang fokusnya pembudidayaan, menjadi persoalan utama pengembangan pertanian tanaman obat dan jamu atau empon-empon atau yang biasa disebut toga oleh masyarakat di DIY.

Hal itu membuat harga jual komoditas tanaman herbal yang ditanam sulit bersaing dengan daerah lainnya. “Kebanyakan masyarakat itu hanya menanam tanaman toga dengan skala kecil. Sekedar sebagai sambilan. Tidak dibudidayakan secara fokus. Sehingga hasil panennya juga sedikit. Sementara di daerah lain pembudidayan dilakukan secara fokus dengan sistem hamparan. Sehingga harga jual bisa bersaing,” ujar penggerak pertanian Toga asal Desa Sendangsari, Pengasih, Kulonprogo, Kemin, Rabu (11/09/2019).

Padahal Kemin menyebut, jika dikelola secara terfokus dan serius, budidaya toga bisa berpotensi menghasilkan keuntungan yang menjanjikan. Selain diserap pabrik, untuk diolah menjadi jamu, hasil panen juga banyak dipakai sebagai obat herbal.  “Seperti jahe putih, jahe merah, atau kunyit itu sebenarnya memiliki nilai jual yang lumayan tinggi. Sayangnya tidak semua masyarakat serius membudidayakannya,” kata Ketua Kampung Jamu Sendangsari Pengasih tersebut.

Bersama sejumlah warga lainnya, Kemin mendirikan kampung tanaman toga dan empon-empon di tempat tinggalnya di Dusun Gegunung Sendangsari Pengasih Kulonprogo. Memanfaatkan lahan pekarangan rumah yang ada, mereka mengumpulkan ratusan jenis tamanam toga dan empon-empon, untuk ditanam dan dibudidayakan.

“Total ada sekitar 105 macam tanaman obat dan jamu yang kita tanam. Semuanya asli tanaman lokal. Diantaranya seperti Purwaceng, yang bermanfaat untuk stamina tubuh. Temulawak atau kurkuma untuk menambah nafsu makan, kunyit untuk penyembuh diare dan tanaman-tanaman lainnya,” ungkapnya.

Selain dimanfaatkan untuk dikonsumsi sendiri, hasil panen juga dijual ke salah satu pabrik jamu yang terletak tidak jauh dari dusun mereka. Meski jumlahnya tidak seberapa, namun setidaknya bisa memberikan tambahan penghasilan.  “Yang terpenting memang bisa dimanfaatkan sendiri. Sehingga jika ada warga yang mengalami sakit atau gangguan kesehatan bisa mengkonsumsinya. Tidak perlu ke dokter dan mengeluarkan banyak biaya. Apalagi obat herbal tidak memiliki efek samping,” tandasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!