hut

Pengrajin Tenun Ikat Flotim Butuh Bantuan Modal

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LARANTUKA — Harga kain tenun di kota Larantuka kabupaten Flores Timur, NTT masih tergolong mahal dibandingkan dengan kabupaten lainnya di NTT. Kisaran harga yang ditawarkan antara Rp350 ribu hingga Rp1 juta per lembarnya.

Apolonia Corebima, kepala dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Flores Timur, NTT. Foto : Ebed de Rosary

Di kabupaten Sikka misalnya, harga tenun ikat berkisar antara Rp300 ribu sampai Rp500 ribu untuk kain yang menggunakan benang toko dan pewarna pabrik, bukan menggunakan pewarna alam.

“Pemerintah perlu memberikan bantuan modal bagi kelompok-kelompok tenun agar harga yang ditawarkan bisa lebih murah,” kata Maria Peni Hekin, penenun di kabupaten Flores Timur, NTT, Selasa (24/9/2019).

Maria katakan, rata-rata penenun yang tergabung dalam kelompok, banyak yang belum mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk memulai usaha dan mengembangkannya.

Pihaknya hanya mendapatkan bantuan dari pemerintah desa berupa benang dan pewarna, namun jumlahnya terbatas, sehingga belum bisa berproduksi dalam jumlah besar.

“Kelompok kami memang dapat bantuan dana dari pemerintah desa namun jumlahnya terbatas. Kalau bisa pemerintah kabupaten Flores Timur membantu bahan dan pelatihan menenun juga bagi generasi muda,” harapnya.

Kepala dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Flores Timur, NTT, Apolonia Corebima mengatakan, kantornya memang telah melakukan pendataan mengenai jumlah motif tenun di wialayah Flores daratan, pulau Solor dan Adonara.

Menurut Nia, sapaannya, pihaknya juga memberikan pelatihan mengenai mengenai manajemen kepada kelompok tenun. Namun dia meminta agar dinas Perindustrian dan Perdagangan yang harus membina kelompok tenun.

“Kalau membantu modal dan pelatihan mencelup benang hingga menenun tentunya itu berada di dinas Perindustrian dan Perdagangan. Harusnya kelompok tenun didata dan dibimbing hingga ke pemasaran,” ujarnya.

Nia juga mengakui harga kain tenun ikat yang dijual di Flotim terlampau mahal terutama di Flores daratan dan pulau Solor. Hal ini berbeda dengan kain tenun dari pulau Adonara yang harganya minimal Rp350 ribu per lembarnya.

Kain tenun yang sama dengan benang toko, kata dia, dijual di Flores daratan dengan harga Rp800 ribu sampai Rp1 juta per lembarnya. Ini yang membuat kain tenun sulit terjual.

“Saya juga sering imbau agar penenun harus fokus menenun agar dalam sebulan jangan hanya menghasilkan 2 lembar saja tetapi minimal bisa hasilkan 8 lembar,” ucapnya.

Dengan menghasilkan banyak kain tenun kata Nia maka otomatis harga jualnya bisa ditekan. Pangsa pasar kain tenun untuk wilayah Flotim masih terbuka luas dan banyak pembeli lokal.

Lihat juga...