hut

Perajin Belum Fokus Kembangkan Kain Tenun Khas Flotim

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Dalam pagelaran festifal Lamahaolot di desa Bantala, kecamatan Lewolema, kabupaten Flores Timur, terdapat belasan perempuan dewasa melakukan aktivitas menenun. Mereka memperagakan proses menenun kain tenun dengan motif khusus bagi laki-laki maupun perempuan.

“Kami diminta dinas kebudayaan dan pariwisata untuk memperagakan cara menenun, agar bisa dilihat masyarakat dan pengunjung yang datang ke festival Lamaholot,” kata Maria Peni Hekin, salah seorang penenun dari desa Bantala, Sabtu (14/9/2019).

Peni, sapaan karibnya, mengaku menenun Kwatek kain tenun dengan motif  belah ketupat. Dalam sebulan, dirinya bisa menghasilkan dua lembar kain tenun untuk dijual.

“Kalau ada waktu, baru kami menenun di rumah. Biasanya kalau sudah selesai panen di ladang. Menenun juga saya lakukan usai memasak dan mengurus rumah,” ungkapnya.

Dari hasi menjual kain tenun, kata Peni, bisa membantu ekonomi keluarga. Dia mengaku bisa mendapat keuntungan Rp200 ribu hingga Rp300 ribu untuk selembar lain tenun yang dijual.

Maria Hekin, penenun di desa Bantala, Lewolema, Flotim, NTT -Foto: Ebed de Rosary

“Untuk menghasilkan selembar kain tenun, memang butuh waktu lama, karena saya harus mengurus rumah serta memasak dulu. Biasanya, sore hari baru bisa menenun, sehingga bisa butuh waktu dua minggu baru selesai,” terangnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Flores Timur, Apolonia Corebima, mengatakan, Flores Timur memiliki keragaman motif tenun yang diwariskan sejak zaman nenek moyang.

“Dari list yang dibuat dinas Kebudayaan dan Pariwisata Flotim, ada 10 motif yang dominan, baik di pulau Adonara, Solor maupun Flores daratan. Belum termasuk motif lainnya yang hanya dibuat beberapa penenun saja,” ujarnya.

Menurut Nia, sapaannya, para perempuan Flores Timur tidak fokus menenun. Mereka menganggap menenun hanya sebagai aktivitas tambahan, sehingga untuk menghasilkan selembar kain tenun bisa butuh waktu berminggu-minggu.

“Padahal kalau fokus menenun, bisa menghasilkan selembar kain tenun dalam waktu waktu 3 sampai 4 hari saja. Para penenun kita belum fokus dan melihatnya sebagi peluang untuk mendapatkan uang,” sebutnya.

Makanya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Flores Timur selalu berupaya membuat kain tenun Lamaholot bisa dicintai. Ini agar kain tenun Lamaolot tetap dipertahankan dari generasi ke generasi.

“Saya yakin, harga akan turun kalau para penenun fokus dalam menghasilkan kain tenun, agar bisa menghemat waktu dalam proses pembuatannya,” ungkapnya.

Nia pun meminta kepada para penenun, agar jangan menaikkan harga jual supaya wisatawan yang berkunjung ke desa pun bisa membelinya dengan harga yang wajar.

“Kalau menjual dengan harga mahal, maka kain tenun kita sulit bersaing dengan kain tenun dari daerah lainnya,” harapnya.

Lihat juga...