hut

Petani di Lamsel Jadi Pengepul Rongsok

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Guna mencukupi kebutuhan, Ikbal, petani di Desa Kelau, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel), menjadi pengepul rongsok sebagai usaha sampingan.

Ikbal mengaku sudah menekuni usaha sampingannya itu sejak dua tahun terakhir. Awalnya, ia kerap melihat sampah plastik yang bernilai jual masuk ke sungai dan sawah. Sembari membersihkan aliran air, ia mengumpulkan sekitar 100 kilogram sampah plastik dalam dua pekan. Jumlah tersebut sangat banyak, terlebih saat musim penghujan, sebab sampah kerap dibuang di sungai.

Menurutnya, sampah plastik dijual seharga Rp600 hingga Rp1.000 per kilogram. Melihat potensi ekonomi itu, ia memanfaatkan waktu luangnya untuk berkeliling menjadi pengepul rongsok.

“Saya membawa motor dengan rombong bambu, karung serta timbangan tangan, karena kerap sampah plastik dan berbagai jenis sampah bernilai jual sengaja dikumpulkan oleh warga yang bisa saya beli,” ungkap Ikbal, saat ditemui Cendana News, Kamis (5/9/2019).

Ikbal menambahkan, mulanya ia harus menahan malu karena keliling mencari sampah. Dipandang sebelah mata, namun dengan keyakinan mencari uang halal, ia masih melakukan pekerjaan tersebut.

Tidak jarang, ia mendatangi lokasi pembuangan sampah di tepi jalan dan tepi sungai. Sebagian sampah yang masih bisa dijual adalah jenis plastik, kardus, dan besi.

Selain berkeliling ke tempat pembuangan sampah, ia juga memiliki pelanggan tetap. Pelanggan tetapnya adalah sejumlah ibu rumah tangga yang mengumpulkan sampah. Jenis sampah yang dikumpulkan berupa besi, botol plastik dan perabotan tidak terpakai. Sejumlah barang elektronik tidak terpakai, bahkan dibeli olehnya. Warga yang memiliki sampah plastik kerap sudah memiliki jadwal pengambilan.

“Satu bulan, pengumpulan setiap warga yang menjadi langganan saya sudah menampung satu karung sampah yang bisa saya timbang,” ungkap Ikbal.

Proses mengumpulkan sampah plastik dan jenis lain bernilai jual kerap menyasar sejumlah desa. Ia akan kembali ke rumah yang sekaligus menjadi lokasi pengepulan saat rombong penuh.

Berkat usahanya tersebut, kesadaran warga mengumpulkan sampah meningkat. Sebab, sampah yang dikumpulkan bisa menjadi rupiah atau uang.

Setiap rumah yang mengumpulkan sampah, rata-rata mendapatkan hasil Rp15 ribu hingga Rp20 ribu. Hasil tersebut diperoleh dari penimbangan sejumlah sampah didominasi plastik.

Selain plastik, beberapa warga memilih menjual besi bekas, alat elektronik bekas. Proses penimbangan dengan timbangan tangan langsung disaksikan oleh pemilik sampah dan dibayar tunai.

Suyatinah, salah satu warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, mengaku kerap mengumpulkan sampah plastik. Daripada dibakar atau dibuang, sampah botol plastik dan kertas kardus sengaja dijual ke pengepul rongsok.

Selain lingkungan bersih, dengan menjual rongsokan ia bisa memperoleh uang. Hasil penjualan barang bekas bisa dimanfaatkan untuk uang jajan cucunya saat sekolah.

“Sebulan, hasil penjualan sampah mencapai puluhan ribu bisa dipakai untuk uang jajan cucu, atau tambahan membeli bumbu dapur,” beber Suyatinah.

Menurutnya, pengepul rongsok ikut andil dalam menjaga kebersihan lingkungan. Sebab, di wilayah tersebut belum memiliki tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Sebagai solusi, pemilahan sampah dilakukan pada sampah organik dan nonorganik. Sampah organik biasanya dipendam sebagai pupuk, sementara sampah plastik, kertas bisa dijual.

Menjual sampah plastik yang mengasilkan uang bahkan bisa diajarkan bagi anak-anak. Sebab, anak-anak yang kerap membeli minuman kemasan membawa sampah plastik. Tempat sampah khusus dari karung disiapkan sebagai penampungan sementara. Saat tukang rongsok datang, penimbangan dilakukan dan ia memperoleh uang.

“Uang yang diperoleh dan diperlihatkan kepada anak menjadi pelajaran, bahwa sampah bisa menjadi uang,” ungkap Suyatinah.

Meski sampah plastik dan sejumlah sampah bisa didaur ulang, sebagian warga masih menbuang sampah sembarangan.

Sahroni, kepala desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, bahkan harus terjun membersihkan sampah. Lokasi pembuangan sampah di tepi Jalan Lintas Timur, Dusun Muara Bakau, mengakibatkan pemandangan tidak sedap.

“Banyak sampah yang sebetulnya bisa didaur ulang, namun karena sudah dibuang, lalu dibakar,” tegas Sahroni.

Sahroni menyebut, Desa Bakauheni sudah mengeluarkan peraturan desa (Perdes). Perdes yang dibuat mengatur pemberian hukuman bagi pembuang sampah Rp350 ribu. Denda bagi pembuang sampah tersebutdiberikan, agar memberi efek jera bagi pembuang sampah.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!