Pluralisme Acuan Umat Hidup Bermasyarakat

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Semangat pluralisme menjadi acuan umat Katolik di Lampung Selatan untuk bisa menghargai sesama.

Uskup Keuskupan Tanjung Karang,Lampung, Mgr.Yohanes Harun Yuwono, menyebut, segala perbedaan pada diri manusia sama di hadapan Allah. Hal yang sama terjadi di dalam Gereja Katolik di seluruh dunia. Di lingkup Indonesia, umat Katolik juga berasal dari latar belakang suku, asal usul, warna kulit yang beragam.

Meski ada perbedaan latar belakang, semangat hidup tetap dilandasi persatuan. Sebagai bentuk persatuan, gereja mengajarkan kepada imat untuk selalu berbuat baik dan meninggalkan kejahatan. “Sakramen Krisma yang sudah diterima, merupakan pencurahan Roh Kudus yang menjadi semangat bagi umat Katolik dewasa menjalankan tugas perutusan sebagai Rasul, membantu tugas kegembalaan uskup dan selalu berbuat kebaikan tanpa membeda bedakan,” ungkap Mgr. Yohanes Harun Yuwono, pada syukuran penerimaan sakramen Krisma, Minggu (29/9/2019).

Usai sakramen Krisma kepada 65 umat, uskup mendapat sajian pertunjukan tari tradisional, yang menyimbolkan pluralism. Sifat Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik, menjadikan gereja bersifat universal, tanpa perbedaan dan menjaga toleransi.

Tari Kecak kreasi khas Bali dipersembahkan umat Katolik Stasi Santa Maria Tri Dharma Yoga pada syukuran penerimaan sakramen Krisma di gereja Santo Yohanes de Britto,Sukabakti,Kecamatan Palas Lampung Selatan, Minggu (29/9/2019) – Foto Henk Widi

Semangat persatuan, disebut Mgr.Yohanes Harun Yuwono,ada dalam kehidupan sehari hari. Umat tinggal di lingkungan yang multi agama dan multi etnis. Sebagai uskup Tanjung Karang, menjaga plularisme menjadi tugasnya, sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Wali Gereja Indonesia (Komisi HAK KWI). “Saya telah banyak melakukan dialog dengan sejumlah tokoh agama dan masyarakat, untuk meningkatkan pentingnya semangat menjaga perbedaan tanpa membeda bedakan,” tegas Mgr.Yohanes Harun Yuwono.

Dalam acara tersebut, Gereja Katolik Unit Pastoral Bakauheni, di bawah pastor Paroki Petrus Tripomo, menyajikan tari tradisional. Tari yang ditampilkan diantaranya Tari Sigeh Pengunten. Sebuah tari khas Lampung, simbol penyambutan tamu Agung.

Tarian Sigeh Pengunten menjadi simbol sambutan dan penerimaan. Simbol pemberian sekapur sirih menjadi ciri khas tarian yang dibawakan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Unit Pastoral Bakauheni tersebut. Sekapur sirih diberikan penari kepada Mgr.Yohanes Harun Yuwono,ketua Dewan Pastoral (Depas) dan tokoh masyarakat termasuk Kepala Desa Sukabakti.

Selain tarian Sigeh Pengunten, tarian Kecak dari Bali juga ditampilkan oleh stasi Santa Maria Tri Dharma Yoga. Tari Kecak kreasi menjadi simbol persatuan antar generasi sehingga ditarikan oleh anak-anak dan orangtua. Sementara, umat dari Stasi Santo Ferdinando yang beretnis Batak, menggelar tari Tor Tor yang diiringi pemberian kain ulos yang menjadi simbol melindungi. Ulos menjadi tali persatuan pada setiap benang pembuatnya. Pemberian ulos, menyimbolkan agar bapa uskup menjadi pemersatu umat Katolik dengan perbedaan yang ada.

Guyup dan rukunnya umat Katolik dari sejumlah wilayah Kecamatan di Lamsel diapresiasi Susilo, Kepala Desa Sukabakti, Kecamatan Palas. Sebagai kepala desa, Dia mengaku bangga dengan sikap toleransi warganya. Segala perbedaan terkait etnis, agama akan menjadi kekuatan untuk membangun desa demi kemajuan bersama. “Saya merasa ikut terhormat karena desa kami yang dihuni oleh multi etnis dan agama mendapat kunjungan bapa uskup, pemimpin umat Katolik Lampung,” tutur Susilo.

Toleransi dan gotong-royong sangat menunjang pembangunan. Kegiatannya juga bisa menjaga hubungan baik sebagai sesama warga negara. Meski hidup dalam perbedaan, warga di Desa Sukabakti memiliki ikatan kekeluargaan tanpa membeda bedakan.

Sebagai kepala desa yang Muslim, Susilo menyebut, Aloysius Rukun Haryoto, merupakan ayah angkatnya. Sebagai Ketua Dewan Pastoral Unit Pastoral Bakauheni, Dia dinilai menjadi pemersatu warga yang berasal dari wilayah Yogyakarta. Meski sebagian warga desa memeluk agama yang berbeda, semangat guyup dan toleransi terus dijaga di desa yang dipimpinnya.

Lihat juga...