hut

Produksi Jagung Menurun, Berimbas pada Buruh Petik dan Perontok

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Penurunan produksi jagung di Lampung Selatan (Lamsel) ikut mempengaruhi jasa petik dan usaha perontokan jagung.

Sumini, buruh petik jagung di Desa Pasuruan, Penengahan mengungkapkan, penurunan produksi terlihat pada jumlah hasil panen dalam karung. Pada kondisi normal ia bisa mendapatkan hasil petik sebanyak 30 karung, kini hanya mendapatkan 25 karung.

Sumini, salah satu buruh pemetik jagung di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan melakukan proses pemetikan jagung milik salah satu warga, Kamis (19/9/2019) – Foto: Henk Widi

Penurunan produksi jagung membuat ia mendapatkan hasil lebih sedikit. Sebab dengan upah Rp4.000 per karung ia hanya mendapatkan Rp100.000 untuk 25 karung yang berhasil dipetiknya.

Jumlah itu lebih sedikit dibandingkan saat produksi jagung stabil hingga 30 karung dengan hasil Rp120.000. Selain jumlah karung yang menurun, permintaan jasa panen jagung mulai berkurang.

Sebagian lahan jagung yang masih bisa panen menurutnya berasal dari lokasi yang dekat dengan saluran irigasi. Sebab pemilik tanaman jagung masih bisa melakukan penyiraman tanaman hingga memasuki masa panen.

Satu hamparan lahan jagung yang membutuhkan sekitar 30 buruh petik berkurang menjadi 20 buruh. Pengurangan tenaga buruh petik dilakukan pemilik menyesuaikan jumlah jagung yang akan dipetik.

“Masa panen jagung kerap menjadi berkah bagi para buruh petik namun saat kemarau hanya sedikit lahan jagung bisa dipanen, sebagian gagal panen karena pertumbuhan tidak maksimal,” ungkap Sumini saat ditemui Cendana News, Kamis (19/9/2019).

Saat musim panen jagung dalam jumlah banyak, sebagian buruh panen mendapat order hingga luar kecamatan. Ia dan sejumlah buruh petik bahkan mendapat upah lebih tinggi hingga Rp10.000 per karung.

Sebab pada kondisi panen raya jagung tenaga kerja buruh petik sulit diperoleh. Sepekan pada musim panen raya jagung Sumini bisa menabung hingga Rp1 juta namun kini hanya mendapat hasil ratusan ribu.

Sejumlah buruh petik menurut Sumini bahkan mampu membayar setoran kredit motor saat panen raya jagung. Namun pada saat kemarau, menurunnya produksi panen jagung berimbas penurunan hasil.

Sang suami yang ikut menjadi buruh angkut atau manol jagung dengan upah per karung sekitar Rp5.000 juga mengalami penurunan hasil. Sang suami bahkan disebutnya beralih menjadi kuli bangunan selama musim kemarau.

“Produksi jagung menurun membuat tenaga yang dibutuhkan lebih sedikit ikut mempengaruhi buruh petik,” cetus Sumini.

Penurunan produksi jagung saat kemarau diakui Hasan salah satu pemilik lahan jagung di Desa Banjarmasin. Panen yang masih dilakukan lebih sedikit dibandingkan pada masa tanam musim penghujan (rendengan).

Hasan, salah satu pemilik lahan jagung di Desa Banjarmasin Kecamatan Penengahan Lampung Selatan, Kamis (19/9/2019) – Foto: Henk Widi

Sebab pada masa tanam kemarau (gadu) hujan tidak turun di wilayah tersebut. Sebagian petani jagung memanfaatkan pasokan air dari sungai Tuba Mati dan fasilitas sumur bor bantuan Kementerian Pertanian.

Hasil yang menurun tersebut diakui Hasan dengan perbandingan hasil panen musim tanam sebelumnya. Pada lahan seluas setengah hektare sebanyak 100 karung jagung bisa dihasilkan.

Namun pada masa panen musim gadu ia hanya mendapatkan hasil sekitar 70 karung. Hasil tersebut menurutnya masih menjanjikan dibandingkan petani lain yang mengalami kekeringan sebelum jagung berbunga.

“Tanaman jagung di sekitar aliran sungai Tuba Mati masih bisa mendapat pasokan air, meski hasil panen menurun,” tuturnya.

Hasil panen yang menurun disebutnya mempengaruhi harga jual. Penjualan dengan sistem karungan menurutnya dihargai Rp100.000 lebih mahal dibanding sebelumnya Rp90.000 per karung. Sebaliknya jagung yang dijual dalam bentuk pipilan atau sudah dirontokkan dijual dengan harga Rp4.700 per kilogram.

Harga jual tersebut masih belum menyentuh level di atas Rp5.000 yang bisa dipergunakan untuk menutupi biaya operasional saat kemarau.

Menurunnya produksi jagung kala kemarau, berimbas pula pada usaha perontokan jagung.

Feriadi, pemilik mesin perontok jagung mengaku order menurun akibat petani yang panen minim. Pada masa panen raya ia kerap melayani sekitar 5 pemilik jagung per hari rata-rata 6 ton. Kini saat hasil panen menurun ia hanya bisa melayani sekitar 3 pemilik jagung yang merontokkan jagung.

Per ton jagung yang dirontokkan menurutnya ia mendapat upah Rp200.000. Namun dengan sedikitnya petani jagung yang panen order mesin perontok jagung berkurang. Sejumlah petani jagung yang masih bisa panen menurutnya merupakan pemilik lahan yang dekat dengan saluran irigasi.

Sebab sebagian lahan jagung gagal panen. Imbasnya ia mengalami penurunan omzet jutaan rupiah per pekan dibandingkan musim panen sebelumnya dari usaha jasa mesin perontok jagung.

Lihat juga...