hut

Puluhan Desa di Kabupaten Banyumas Alami Krisis Air Bersih

Editor: Mahadeva

BANYUMAS – Hingga akhir bulan September ini, ada 71 desa di Kabupaten Banyumas mengalami krisis air bersih. Jumlah desa yang kesulitan air bersih saat ini terus bertambah.

Hal itu dikarenakan, pada pertengahan September lalu, tercatat hanya 60 desa yang krisis air bersih. Kepala Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Ariono Poerwanto, mengatakan, 71 desa yang krisis air bersih tersebut, tersebar di 19 kecamatan.

Meluasnya krisis air bersih, dikarenakan Kabupaten Banyumas sampai saat ini belum turun hujan. Seperti cuaca di sepanjang Minggu (29/9/2019), meskipun mendung sejak pagi, namun hingga malam hari tidak juga turun hujan. “Hari ini mendung terus, tetapi di wilayah perkotaan tidak juga turun hujan, begitu pula di pinggiran. Sehingga suplai air bersih warga, masih mengandalkan dari droping air sepenuhnya,” terangnya, Minggu (29/9/2019).

Kepala Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Ariono Poerwanto. (FOTO : Hermiana E.Effendi)

Ariono memperkirakan, krisis air bersih masih akan terus meluas hingga bulan depan. Kemungkinan musim hujan baru akan tiba pada akhir Oktober atau awal November. Musim kemarau yang berlangsung lama, sudah membuat sumur-sumur milik warga mengering. Begitu pula dengan sebagian sungai dan mata air.

Data BPBD Banyumas, dari 27 kecamatan di Banyumas, 19 diantaranya mengalami krisis air bersih. Hanya delapan kecamatan yang belum mengajukan permintaan droping air bersih ke BPBD. Kecamatan yang belum mengalami krisis air bersih berada di wilayah perkotaan, mulai dari Kecamatan Purwokerto Selatan, Purwokerto Timur, Purwokerto Utara dan Purwokerto Barat.

Kemudian ditambah dengan kecamatan yang berbatasan dengan Kota Purwokerto yaitu Kecamatan Sokaraja dan dua kecamatan di wilayah atas yang berdekatan dengan lereng Gunung Slamet, yaitu Kecamatan Baturaden dan Sumbang. “Wilayah yang mengalami krisis air bersih ini, berada di Banyumas bagian barat, selatan dan timur, kalau untuk utara, relatif masih aman, karena suplai air dari pegunungan masih bagus,” terangnya.

Kecamatan yang paling parah mengalami krisis air bersih yaitu Sumpiuh. Ada 11 desa di Kecamatan Sumpiuh yang kesulitan air bersih dan sudah berlangsung lama. Bahkan untuk Desa Nusadadi, Kecamatan Sumpiuh, sampai saat ini sudah dilakukan droping air sebanyak 76 kali atau sudah disuplai air  bersih sebanyak 380.000 liter. Demikian pula dengan Desa Selandaka, Kecamatan Sumpiuh yang sudah mengajukan droping air hingga 54 kali.

Lihat juga...