hut

Ritus Api Masyarakat Adat Lewolema Ramaikan Festival Lamaholot

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LARANTUKA — Dalam pembukaan festival Lamaholot di desa Bantala kecamatan Lewolema kabupaten Flores Timur, NTT, Rabu (11/9/2019) ritual membuat api atau Ritus Api kembali dipentaskan.

Tokoh adat desa Bantala kecamatan Lewolema kabupaten Flores Timur, NTT, Bertolomeus Rape Hokor. Foto : Ebed de Rosary

Api yang dihasilkan dari ritus ini dipergunakan untuk menyalahkan obor bambu yang akan diberikan kepada bupati Flores Timur untuk menyalahkan obor bambu yang lebih tinggi di tengah lapangan desa Bantala sebagai tanda pembukaan.

“Ritus api bagi masyarakat adat Lewolema biasanya terjadi pada saat pembersihan kebun baru, sekaligus membakar ranting-ranting dan dahan kayu, serta rumput yang ada di kebun adat,” kata tokoh adat desa Bantala Bertolomeus Rape Hokor, Kamis (12/9/2019).

Ia menjelaskan, proses pembuatannya menggunakan menggunakan dua bilah bambu yang digosok menggunakan parang.

“Bambu yang digunakan bukan sembarang bambu tetapi dari suku tertentu dari suku Ama Hurit. Sementara suku Hokor, Kelen dan Aran hanya mendampingi saja,” jelasnya.

Yang menggosok bambu juga hanya suku Hurit dan Aran sedangkan suku Hokor dan Kelen hanya menahan bambu saja. Biasanya melibatkan banyak tetua adat, tapi itu di saat buka kebun baru.

Petrus Eban Tukan, warga Lamatou desa Painapang kecamatan Lewolema menambahkan, Ritus Api biasa dilaksanakan masyarakat adat di kecamatan Lewolema saat pembersihan kebun baru sekaligus membakar ranting-ranting dan dahan kayu serta rumput yang ada di kebun adat.

“Biasanya menggunakan batu api dan bisa juga menggunakan dua bilah bambu yang digosok hingga megeluarkan percikan api,” sebutnya.

Dikatakan Petrus, bagian bawah batu api atau bambu ditaruh sabut kelapa sehingga saat batu api atau bilah bambu digosok, percikan akan mengenai sabut kelapa.

Kalau sudah mengeluarkan asap, jelasnya, biasanya langsung ditiup hingga sabut kelapa akan mengeluarkan api.

“Jaman dahulu kala kan orang belum mengenal korek api sehingga mempergunakan cara ini. Namun sekarang pun masih dilakukan saat di kebun adat atau membuat api di kebun bila tidak membawa korek api,” ujarnya.

Hampir semua kaum lelaki Lewolema kata Petrus bisa melakukan pembuatan api ini. Namun dalam ritual adat, hanya dilakukan oleh tetua adat sebab ada makna tersendiri yang terkandung di dalam ritual ini.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!