hut

Sapi Bondowoso Masih Dipotong di Luar Daerah

Editor: Mahadeva

BONDOWOSO – Komoditas sapi Bondowoso, menjadi yang terbesar ke-empat di Jawa Timur. Namun sayangnya, potensi peternakan tersebut belum digarap secara serius.

Data Dinas Pertanian Bondowoso menyebut, di 2018 Bondowoso memiliki populasi 224 ribu sapi hidup. Jumlah tersebut belum termasuk populasi kambing. “Kita untuk komoditas ternak, adalah yang terbesar ke-empat di Jatim. Padahal luas wilayah Bondowoso tergolong tidak besar, bila dibanding daerah lain,” ujar Cendy Herdiawan, Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Bondowoso kepada Cendana News, Senin (3/9/2019).

Tidak optimalnya pemanfaatan potensi peternakan tersebut, terlihat dari masih banyaknya sapi Bondowoso yang dijual ke luar daerah dalam keadaan hidup. Pelaku usaha lebih senang memotong hewan ternaknya di tempat tujuan, seperti Sidoarjo, Surabaya, Malang bahkan Jakarta dan Tasikmalaya.

Padahal, dengan memotong hewan ternak di luar Bondowoso, pelaku usaha tersebut masih diharuskan mengurus beberapa ketentuan, seperti Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH), yang dikeluarkan oleh Dinas Pertanian Bondowoso. Pemotongan hewan ternak di luar kota tersebut, sejatinya merugikan Bondowoso dari segi ekonomi.

Cendy Herdiawan, Ketua Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Bondowoso saat di kantornya, Senin (2/9/2019) – Foto: Kusbandono.

“Kita kehilangan potensi pajak, karena tidak dipotong di sini. Juga nilai ekonomi lain yang seharusnya bisa didapat, kalau diolah di sini,” ujar dokter hewan alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Unair Surabaya tersebut.

Praktik penyembelihan hewan ternak di luar Bondowoso, karena ada salah kaprah di kalangan masyarakat tentang daging segar atau froozen. “Ada anggapan, daging yang terbaik adalah yang masih fresh, baru dipotong. Padahal bukan seperti itu. Yang tidak kalah penting adalah pengemasan pasca-potong. Seperti di pasar becek (tradisional), sering kita lihat daging yang digantung begitu saja dan dirubung lalat. Karena yang juga lebih penting adalah teknik penyembelihannya, itu sangat menentukan kualitas daging,” papar Cendy.

Dengan potensi yang ada, Cendy menyebut, pengembangan usaha peternakan di Bondowoso seharusnya bisa lebih modern. “Dari segi kultur, kita lebih unggul dibanding di kota-kota besar. Di sini tidak ada hewan ternak yang makan sampah seperti di Jakarta. Juga tidak ada daging gelonggongan, yakni massa dagingnya diperbesar dengan dipaksa minum air banyak,” papar Cendy.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!