hut

SDN1 Karanganyar Trenggalek Raih Penghargaan di Kompetisi Bijak Plastik

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

BEKASI — Sepuluh sekolah dari berbagai wilayah Indonesia mendapatkan penghargaan dalam kompetisi sekolah bijak plastik bertepatan dengan peringatan World Cleanup Day (WCD) Indonesia 2019.

Sepuluh sekolah tersebut terpilih atas kreatifitas dan inisiatifnya melalui langkah bijak plastik dalam pengelolaan sampah. Penghargaan diberikan langsung dalam peringatan WCD 2019 di Kota Bekasi, Jawa Barat.

Kesepuluh sekolah pemenang kompetisi tersebut meliputi, SD Negeri 064036 Medan, SD Negeri 53 Malilin, SDN Cipinang Besar Selatan, SD Sekar Pelangi Balikpapan, SDN CIkande, I Tangerang, SD Negeri Islam De Green Tanjungpinang, SD Negeri I Karanganyar-Trenggalek, SDN 5 Teluk Purwokerto, SD Alam Lampung dan SMP Negeri 39 Bandung.

“Upaya bijak dalam menjaga lingkungan di sekolah, sudah kami lakukan sejak tahun 2014. Peserta didik selalu diminta untuk menjaga lingkungan dengan meminimalisir pemakaian plastik,”ujar Sumirah, Kepala Sekolah SD Negeri 1 Desa Karanganyar, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, di Bekasi Sabtu (21/9/2019).

Upaya lain yang dilakukan SD Negeri 1 Karanganyar, Trenggalek, dengan berburu sampah setiap hari Jumat. Seluruh anak akan turun ke desa, untuk memungut sampah plastik lalu kemudian dikumpulkan di sekolah ditempatkan dalam kotak tentu untuk ditimbang.

Setelah ditimbang lanjut Ibu Sumirah, sampah tersebut dijual ke bank sampah dan uang hasil penjualan akan dimasukkan ke dalam kotak amal sebagai santunan kepada siswa yang yatim piatu dan dhuafa.

“Akhirnya saya berpikir dan berinisiatif untuk membuat video aksi sekolah. Kebetulan peringatan WCD ini, ada kompetisi sekolah bijak plastik. Saya kirim dan alhamdulillah menang,”ujarnya bangga.

Setelah mendapat penghargaan perbaikan taman bermain atas kepedulian terhadap lingkungan, Sumirah, bertekad akan memberi motivasi seluruh sekolah di Kabupaten Trenggalek dari SD sampai tingkat SMA. Sehingga wilayah Trenggalek benar-benar bebas dari sampah plastik terutama di lingkungan sekolah tingkat.

SD Negeri 1 Karanganyar, selama ini sudah mendapat predikat sekolah Adiwiyata yakni sekolah ramah anak dan sudah mendapat bantuan Kementerian LH tahun 2016. SD ini juga sudah membuat Komposter sendiri.

“Dari sampah tersebut sekolah membuat dompet, tas dan lainnya dengan mengkreasikan sampah plastik. Bahkan saat perlombaan Agustus lalu pelajar SD Negeri Karang Anyat ikut pawai dengan menggunakan fashion dari bahan daur ulang plastik,”tandasnya.

Guru dan siswa SD Sekar Pelangi Balikpapan, memperlihatkan karya Ecobrik, dengan memanfaatkan sampah plastik yang dipadatkan ke dalam botol air mineral ukuran tertentu, Sabtu (21/9/2109). Foto: Muhammad Amin

Sementara Elik Guru bidang lingkungan hidup SD Sekar Pelangi Balikpapan, berhasil memenangkan video kompetisi bijak mengelola sampah plastik dengan mengkreasikan sampah menjadi ecobrik. Ecobrik, sistem pengelolaan sampah plastik yang ditumpuk dan dimasukkan ke dalam botoh air mineral.

“Sampah yang ada di lingkungan sekolah semua dikumpulkan, lalu dicuci, dikeringkan, setelah itu digunting dan di masukkan kedalam botol air mineral. Setelah padat baru ditutup, beratnya satu botol air mineral ukuran 600 mililiter mencapai 2 ons,”ujar Elik usai mendapatkan penghargaan.

Diakuinya bahwa di SD Negeri Sekar Pelangi Balikpapan, tidak menyediakan tempat sampah. Jadi semua sampah plastik disimpan sendiri oleh pelajar. “Ya ini adalah salah satu cara kami dalam menjaga lingkungan dan memberi kesadaran sejak dini bagi pelajar,”ujar Elik.

Ecobrik karya SD Sekar Pelangi Balik Papan, akan dibuatkan sekar pembatas untuk lahan perkebunan atau pun dinding yang ramah lingkungan. Ecobrik juga bisa dikreasikan untuk menjadi meja, kursi dan lainnya.

Lihat juga...