hut

Sidang Umum IAEA Akui Kemampuan Indonesia

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI Mohamad Nasir tampil dalam Sidang Umum IAEA ke-63 di Wina, Austria, - Foto Ant

LONDON – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, Mohamad Nasir, mengatakan, Indonesia terus memperkuat kerja sama teknis dengan International Atomic Energy Agency (IAEA).

Hal itu dilakukan, guna meningkatkan kontribusi teknologi nuklir, mencapai Sustainable Development Goals (SDGs). Untuk mendukung hal itu, Indonesia memperkuat kemampuan pengamanan nuklir yang dikembangkan IAEA di kawasan Asia-Pasifik. “Upaya yang dilakukan diantaranya, ke-ketuaan Indonesia pada Asia-Pacific Safeguards Network (APSN),” ujar Meteri Nasir dalam Sidang Umum IAEA ke-63 di Wina, Austria.

Menristekdikti menyebut, saat ini Indonesia memiliki pengaturan praktis (practical arrangement) dengan IAEA, untuk memudahkan kerja sama teknis. Utamanya, kerjasama dengan negara berkembang, dalam berbagai kerangka termasuk Kerja Sama Selatan-Selatan.

Dengan kemampuan teknis nuklir yang makin mumpuni, Indonesia memposisikan diri sebagai negara pemberi bantuan. “Sebagai bukti, Indonesia ditunjuk IAEA sebagai Collaborating Centre for Plant Mutation Breeding, menjadi negara kontributor IAEA Peaceful Uses Initiatives, dan menjadi negara penyedia bantuan untuk meningkatkan kapasitas teknis nuklir sejumlah negara dalam kerangka Nuclear Capacity Project yang akan dimulai tahun depan,” jelas Nasir.

Menteri Nasir juga mempromosikan keunggulan Indonesia di sektor pertanian. Dengan teknologi nuklir, Indonesia berinovasi mengembangkan varietas padi dan kedelai unggul. Hal itu sebagai kontribusi terhadap pencapaian ketahanan pangan nasional. Inovasi ini mendapat dukungan dari IAEA, dan organisasi internasional terkemuka lainnya, yaitu Food and Agricultural Organization (FAO), dan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).

Tidak kalah dengan sektor pertanian, kemajuan Indonesia di sektor kesehatan juga disampaikan Menristek. “Saat ini, Indonesia dan IAEA bekerja sama mengembangkan kemampuan kedokteran nuklir nasional, khususnya untuk penanganan penyakit kanker,” tambah Nasir.

Hal lain yang mendapat perhatian negara-negara peserta pertemuan adalah, inovasi Indonesia dalam memajukan edukasi nuklir kepada generasi muda, melalui konsep Internet Reactor Laboratory. Selama seminggu ke depan, Indonesia memamerkan metode belajar jarak jauh, dimana aktivitas reaktor riset Kartini di Yogyakarta, dapat dipantau secara live melalui jaringan internet dari Markas PBB Wina. (Ant)

Lihat juga...