hut

Sosok Pak Harto dalam Kenangan Agus Gunaedi Pribadi

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Mayor Jenderal TNI (Purn) Agus Gunaedi Pribadi, Wakil Ketua 1 Masjid Agung At Tin mengungkap kenangan bersama Presiden ke-dua Indonesia, Jenderal Besar HM Soeharto. Suatu ketika, Dirinya bersama para perwira dan Komandan Batalyon dari seluruh Indonesia, diundang Presiden HM Soeharto ke peternakan Tapos, Bogor, Jawa Barat.

Sesampainya di sana, mereka disambut Pak Harto dengan senyum khasnya. Di dalam ruangan joglo berdinding papan dan tirai bambu, mereka bercengkrama. Dalam kesempatan tersebut para perwira  TNI mendapatkan petuah dari Pak Harto, sebagai bekal untuk mengabdi kepada negara.

Petuah yang diberikan Pak Harto adalah Sapta Marga TNI yang diungkapkan penuh penghayatan. “Saya dan perwira yang lain, serta Komandan Batalyon dipanggil ke Tapos. Beliau senior sangat hapal Sapta Marga, dengan rinci disampaikan. Kita tercenggang juga melihatnya,” kata Agus kepada Cendana News

Makna yang terkandung dalam Sapta Marga disampaikan artinya dengan rinci oleh Pak Harto. Keberadaanya, diminta dijadikan petunjuk atau pegangan hidup kesatria prajurit, saat mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia. “Sapta Marga ini diciptakan ketika TNI akan ditentukan seperti apa. Karena TNI adalah prajurit yang membawa senjata. Kalau di salah gunakan senjata ini, seperti apa jadinya. Oleh karena itu dikasih pegangan pedoman hidup Sapta Marga,” ujar Agus meniru ucapan Pak Harto, kala itu.

Mendengar petuah atau petunjuk dari Pak Harto, tentang pedoman Sapta Marga, kobaran semangat dalam jiwa para perwira membuncah. Mereka bersiaga jiwa dan raga untuk membela bangsa dan rakyat Indonesia. Menjamin keamanan, ketentraman, dan kenyamanan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Usai pertemuan itu, para Komandan Batalyon diberikan dana dari pemerintah, untuk digunakan membangun satuan-satuanya. Misalnya, rumah prajurit yang rusak dengan dana itu bisa dibangun dan diperbaiki. “Ada dana masuk ke Komandan satuan, untuk membangun satuannya masing-masing. Saya sempat dua kali dapat saat jadi Kepala Danyon 721 di Pinrang, Sulawesi Selatan dan Danyon 320. Jadi, saya bisa bangun satuan dari dana itu,” ujarnya.

Pak Harto dinilai Agus, sangat memikirkan para prajurit yang gajinya kecil. Lalu dinaikkan gajinya, agar lebih sejahtera. Kalau-pun ada masalah di satuan, dengan sigap komandannya didukung untuk segera dapat menyelesaikan tanpa menyimpan masalah.

Di penghujung kunjungan ke Tapos, mereka diajak Pak Harto berkeliling kawasan peternakan untuk melihat sapi dan kambing. Saat itu pula Pak Harto dengan rinci menyampaikan bagaimana mengelola peternakan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, meningkatkan kualitas serta pengembangan teknologi dan sumber daya manusia (SDM). “Beliau secara rinci menjelaskan, bagaimana ngurus sapi dan kambing. Pakannya, pupuk dan susu, dijelaskan semuanya. Kita terkesan sekali,” ujar Agus.

Pertemuan di Tapos itu menjadi kenangan terindah Agus, karena dirinya bisa bertemu langsung dengan Pak Harto. Kenangan lain yang tersimpan indah di memori Agus, saat dirinya lulus AKABRI di 1977. “Saya ketemu pertama kali dengan Pak Harto, saat saya lulus AKABRI di Yogyakarta. Saya dilantik oleh Beliau, senang banget,” ujarnya.

Setiap tahun disaat upacara bendera di parkir timur Senayan, Jakarta Selatan,  Agus dengan pakaian prajuritnya kerap tampil memainkan drumband di hadapan Pak Harto. “Saat main drumband, itu jarak jauh. Tapi senang bisa lihat Pak Harto, bangga saya,” tukasnya.

Kini di masa pensiunnya, Agus merasa bersyukur bisa mengabdi di Masjid Agung At Tin yang dibangun oleh Pak Harto. Masjid tersebut sangat besar kontribusinya bagi kemaslahatan umat Islam. “Masjid Agung At Tin ini wujud amal jariyah Pak Harto. Semoga pahala terus mengalir kepada almarhuma Pak Harto dan almarhumah Ibu Tien Soeharto, serta  anak-anaknya,” ujar Agus yang menjabat sebagai Wakil Ketua 1 Masjid Agung At Tin.

Agus mengaku sangat bangga dengan Pak Harto, yang telah berhasil memimpin bangsa Indonesia selama 32 tahun. Sudah cukup banyak keberhasilan membangun yang dilakukan Pak Harto.  “Pak Harto sukses wujudkan swasembada pangan, pembinaan keagamaan juga berhasil dan ekonomi meningkat terus. Rakyat hidupnya tenang, damai dan aman,” ungkapnya.

Namun, Agus saat ini mengaku prihatin, melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini. Ketika Pemilihan Presiden (Pilpres) ada dua kubu saling menghujat. Sehingga menjadikan rakyat Indonesia berada dalam suasana tidak nyaman.  “Kita berada dalam suasana yang saling memaki satu sama lain, tak ada manfaatnya.Dan itu tidak dibenarkan menurut aturan agama,” tukasnya.

Dia berharap pemimpin di masa sekarang supaya belajar dari keberhasilan Pak Harto dalam membangun Indonesia. Bagaimana memimpin rakyat dan mengatur negara, serta memajukan ekonomi. “Jangan asal-asalnya, bicara sembarangan,” pungkasnya.

Lihat juga...