hut

Subiakto Tjakrawerdaja: Jangan Pernah Hapus Sejarah Orde Baru

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BOGOR – Peradaban yang dibangun oleh Pak Harto yakni masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Subiakto Tjakrawerdaja, Menteri Koperasi di era Presiden Soeharto, menyampaikan, bahwa Pak Harto identik dengan Pancasila, Orde Baru (mengamalkan Pancasila secara murni dan konsekuen), serta Pembangunan Nasional berdasarkan Pancasila. Pak Harto secara konsisten menjalankan dan melaksanakan GBHN serta UUD 1945.

Subiakto menyampaikan pandangannya perihal buku “50 Inisiatif Pak Harto” di dalamnya tertulis hasil pembangunan Pak Harto dan menjadi tonggak sejarah, menjadi prestasi bangsa Indonesia, salah satunya lahirnya pesawat N250 yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, dan seharusnya dilanjutkan.

Subiakto Tjakrawerdaja (keempat dari kiri), bersama dengan para narasumber dalam acara diskusi dan pameran buku 50 Inisiatif Pak Harto, di Balai Kirti, Museum Kepresidenan RI, Bogor, Kamis (19/9/2019). Narasumber dari kiri ke kanan: Mahpudi, Prof Susanto Zuhdi, dan sejarawan Letjen Purnawirawan Suyono. Foto: M. Fahrizal

Menurutnya, bangsa Indonesia saat ini sangat membutuhkan inspirasi yang relevan dan penting, datang dari pengalaman bangsa sendiri yang sudah merdeka 74 tahun.

Dikatakan relevan dan penting karena menurut Subiakto, ada  kelompok yang ingin menghilangkan bukti-bukti sejarah masa lalu negara Indonesia, atau zaman sekarang dikenal dengan istilah men-delete sejarah Indonesia.

“Saya pernah sampaikan kepada Ketua Arsip Nasional pada waktu datang ke Granadi. Saya katakan agar hati-hati, jangan sampai ada yang men-delete sejarah kita (Indonesia) terutama sejarah Orde Baru. Saya punya begitu banyak bukti bahwa ada upaya sistematis untuk men-delete sejarah Orde Baru,” jelasnya, di Balai Kirti, Museum Kepresidenan RI, Bogor, Kamis (19/9/2019).

Dijelaskan Subiakto, kenapa ada upaya suatu kelompok ingin men-delete sejarah Orde Baru, dikarenakan Orde Baru merupakan fakta sejarah, satu-satunya orde yang memiliki landasan, satu-satunya orde yang mengamalkan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

Subiakto katakan, secara fakta UU yang sekarang ini, sangat berbeda dengan UU pada zaman Orde Baru. Tidak salah jika dirinya mengatakan bahwa hanya Orde Baru yang melaksanakan secara murni dan konsekuen UU yang lama.

“Terkecuali jika nanti ada orde lain yang kebetulan mengembalikan UU yang lama. Memang sudah terlihat perlahan-lahan muncul gerakan yang ingin mengembalikan UUD 1945 kembali ke yang asli. Jika ada perbaikan tentunya melalui adendum, bukan atau tidak mengamandemen,” ucapnya.

Menurutnya, dalam buku ini penulis sudah menjelaskan panjang lebar latar belakang pemikiran-pemikiran Pak Harto dalam rangka mewujudkan peradaban yang didefinisikan luar biasa bagus. Yaitu peradaban Indonesia yang masyarakatnya adil makmur berdasarkan Pancasila.

Subiakto menekankan bahwa peradaban yang dibangun oleh Pak Harto adalah masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila atau masyarakat Pancasilais. Sejak reformasi justru muncul tagline baru atau slogan baru yakni masyarakat madani, tidak lagi menyebutkan masyarakat Pancasilais.

Slogan baru tersebut menurut Subiakto landasan filosofinya berbeda. Justru yang terjadi jika dilihat dari budaya Jawa, kata madani memiliki arti saling ejek. Dan memang di zaman sekarang, masyarakatnya satu sama lain cenderung saling ejek.

Buku 50 Inisiatif Pak Harto ini memang sejatinya berisi tentang pemikiran, ide, gagasan Pak Harto. Yang menarik dari buku ini bahwa Pak Harto secara bertahap ingin kembali pada kemandirian bangsa, melalui jalur pemerataan Pak Harto berhasil mengentaskan kemiskinan.

“Pak Harto mendapatkan gelar Bapak Pembangunan, dan gelar tersebut sangat luar biasa. Menurut saya gelar tersebut lebih tinggi dari gelar pahlawan, karena pahlawan hanya sekedar tanda tangan dari presiden. Sedangkan gelar bapak pembangunan didapat atau ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang posisinya lebih tinggi dari kepala negara,” ucapnya.

Dan pihak keluarga pun, juga tidak terlalu berambisi menginginkan Pak Harto mendapatkan gelar pahlawan, karena Bapak Pembangunan justru gelarnya lebih tinggi di negara ini.

Lihat juga...