hut

Tentukan Peta Rawan Bahaya, Bencana Palu tak Bisa Jadi Acuan

PALU – Penentuan lokasi gempa dan likuifaksi ​​​​​​Kota Palu dalam peta rawan bahaya di masa depan tidak dapat mengacu pada lokasi gempa dan likuifaksi 2018, kata Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, Haris Kariming. ​​

“Berdasarkan pemetaan Lidar (Light Detection and Ranging), kejadian likuifaksi dan longsor besar di masa lalu tidak terjadi di lokasi yang sama dengan kejadian 2018. Dengan demikian, tanpa penelitian yang komprehensif, kemungkinan lokasi gempa dan likuifaksi 2018 tidak dapat dijadikan acuan untuk lokasi kejadian yang sama di masa depan,” katanya di Palu, Minggu.

Penentuan lokasi gempa dan likuifaksi untuk peta rawan bahaya di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu bertujuan untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa yang akan datang.

Pernyataan Haris itu mengacu pada surat Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) nomor 10716/Dt.6.1/08/2019 perihal Penyampaian Rekomendasi Ahli Nasional tentang Perlindungan Pesisir Palu Terhadap Ancaman Tsunami, Gempa bumi dan Likuifaksi yang ditandatangani Direktur Pengairan dan Irigasi selaku Ketua Kelompok Kerja II Bidang Pemulihan Infrastruktur Wilayah Bappenas, Abdul Malik Sadat Idris.

Ia menerangkan, para ahli dalam rekomendasinya di surat itu menekankan pembuatan peta rawan bahaya seharusnya mengacu pada potensi bahaya di masa depan.

“Sebagai contoh, pemetaan zona bahaya likuifaksi yang saat ini sedang disusun oleh berbagai pihak, cenderung mengacu pada area-area kejadian Iikuifaksi 2018,” lanjutnya.

Untuk itu, sambungnya, para ahli mengusulkan dilakukan penelitian secara lebih komprehensif menggunakan metodologi baku dalam penentuan mikro zonasi yang selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam penentuan zona rawan bahaya. (Ant)

Lihat juga...