Wisata Literasi Nasional di Kalbar Hadirkan Duta Baca Indonesia

PONTIANAK – Wisata Literasi Nasional 2019 yang digelar Forum Indonesia Menulis (FIM) di Kalimantan Barat (Kalbar) menghadirkan duta baca Indonesia, Najwa Shihab.

“Wisata literasi ini merupakan acara puncak kegiatan FIM selama 2018. Untuk menyemarakkan gerakan dan aktivitas FIM ini duta baca kita hadirkan,” ujar Direktur FIM, Fakhrul Arrazi, di Pontianak, Sabtu.

Fakhrul menambahkan selain Najwa Shihab, pihaknya dalam satu forum juga menghadirkan Gubernur Kalbar, Kepala Perpustakaan Nasional RI dan sejumlah penulis.

“Dalam kegiatan ini yang dihadiri 1.000 peserta dirangkai berbagai kegiatan termasuk ada talkshow dan seminar literasi nasional, bedah buku, pameran bukan dan peluncuran akbar 1.000 buku,” kata dia.

Ia menargetkan bahwa Kalbar bisa menjadi satu di antara pusat literasi nasional karena FIM lahir dari daerah ini.

“Visi besar kita Kalbar menjadi provinsi literasi nasional. Kalbar harus dan bisa maju dengan literasi yang tinggi,” kata dia.

Ia menyebutkan literasi baik membaca dan menulis atau lainnya yang menjadi satu kesatuan harus terus didorong. Semua pihak harus bergerak. Hal itu untuk mewujudkan SDM yang unggul.

“Tentu kami tidak bergerak sendiri. Semua pihak harus bergerak untuk meningkatkan literasi di daerah ini atau Indonesia. Data terbaru literasi Indonesia saat ini berada di urutan 16 dari 30 yang disurvei,” kata dia.

Dia mengatakan program FIM sendiri menyasar semua kalangan mulai pelajar, guru dan pihak lainnya. Pelatihan menulis, bedah buka dan lainnya terus digalakkan.

“Hingga saat ini sudah ada sekitar 500 ribu buku bedah dan kita tulis. Hari ini saja 1.000 buku dari Kalbar yang kita luncurkan. FIM saat ini sudah melebarkan sayapnya ke seluruh Indonesia,” kata dia.

Ia mengatakan pihaknya menargetkan pada 2020 mendatang menyasar pelatihan dan menulis buku ke 14 kabupaten atau kota yang ada di Kalbar.

“Kemudian pada 2021 kita akan menyasar kawasan Kalimantan lainnya. Kita akan latih dan membuat buku. Kita harus berkarya. Apapun kita buat buku dan ada pendampingan. Semua profesi dan aktivitas kita tulis,” ujarnya.

Untuk tantangan menulis kebayakan yang dialami penulis yakni perlu konsisten. Untuk itulah FIM hadir agar lahir penulis yang berbekal kemauan yang tinggi dan konsisten.

“Sebenarnya saat ini kita diuntungkan. Kejayaan digital kian pesat dan akses informasi tanpa batas. Tinggal tulis saja,” kata dia. (Ant)

Lihat juga...