Alih Profesi Sementara, Pilihan Petani Lamsel Kala Kemarau

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah petani di Lampung Selatan (Lamsel) memilih beralih profesi ke bidang pekerjaan lain selama kemarau.

Kuwadi, petani Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan yang biasa menanam jagung sudah hampir empat bulan tidak bertani. Kekeringan yang melanda lahan pertanian membuat ia beralih profesi menjadi penjual buah segar. Memakai sistem kulakan dari kecamatan lain ia berjualan buah segar keliling.

Buah segar yang dijual dengan keranjang atau rombong kayu diperoleh dari kecamatan lain. Sejumlah buah segar yang dibeli diantaranya jeruk keprok Banyuwangi, pepaya Calina, timun suri semangka dan melon.

Buah segar dari Kecamatan Sidomulyo dan Way Panji diperoleh dari petani yang memiliki sumur bor dan dekat sumber air. Berjualan buah keliling menurutnya menjadi cara untuk tetap mendapat penghasilan.

Sistem kulakan buah disebutnya menjadi sumber penghasilan sementara waktu. Sebab dengan modal terbatas untuk setiap kilogram buah segar yang dijual ia mendapat keuntungan Rp5.000 hingga Rp10.000.

Meski keuntungan kecil, ia memilih berjualan buah segar agar perputaran uang bisa berjalan. Sebab modal yang digunakan merupakan hasil panen jagung pada musim rendengan.

“Kegiatan bertani tidak bisa dilakukan karena kemarau sementara pekerjaan sebagai buruh bangunan membutuhkan tukang berpengalaman sehingga saya pilih menjadi pedagang buah keliling,” tutur Kuwadi saat ditemui Cendana News, Senin (7/10/2019)

Kuwadi menyebut masih akan berjualan buah segar keliling memanfaatkan musim kemarau. Sebab sejumlah buah segar mengalami permintaan yang cukup tinggi.

Berbagai jenis buah tersebut sebagian dijual kepada masyarakat yang membutuhkan buah segar saat kemarau. Selain dipergunakan untuk dikonsumsi langsung sebagian dibeli oleh pedagang minuman es dan jus buah.

Beralihnya profesi sejumlah petani ke pekerjaan lain juga dilakukan oleh Joko warga Desa Gandri. Pemilik lahan perkebunan pisang dan jagung tersebut mengaku musim kemarau tahun ini lebih parah dibanding tahun sebelumnya.

Joko, petani yang menjadi buruh bangunan selama kemarau dengan upah harian Rp100.000 sebagai sumber penghasilan selama lahan pertanian tidak digarap, Senin (7/10/2019) – Foto: Henk Widi

Sebab jika sebelumnya tanaman pisang masih bisa bertahan selama kemarau, kini semua tanaman miliknya layu. Lahan tanaman jagung yang sedianya akan ditanami bahkan terpaksa ditelantarkan menunggu musim penghujan.

“Beruntung saya memiliki keahlian sebagai tukang pasang batu bata saat ada warga membangun rumah pekerjaan itu jadi pilihan,” cetus Joko.

Sebagai tukang bangunan ia menyebut mendapat upah Rp100.000 per hari. Upah tersebut menurutnya dibayarkan setiap lima hari sekali sehingga dalam sepekan ia mendapat hasil Rp500.000. Meski penghasilan yang terbatas ia mengaku pekerjaan sementara sebagai tukang bangunan bisa dipakai memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pekerjaan tersebut menjadi pilihan dibanding harus menganggur akibat lahan pertanian kering.

Pekerjaan membuat rumah disebut Joko menyesuaikan ukuran rumah. Semakin besar ukuran rumah ia menyebut waktu pekerjaan akan semakin lama. Dalam satu kali pembangunan ia membutuhkan waktu sekitar dua bulan bahkan lebih.

Hingga menjelang selesai pengerjaan rumah salah satu warga ia menyebut belum ada tanda akan turun hujan. Ia berharap hujan segera turun sehingga petani bisa kembali bercocok tanam.

Pemilik tanaman cabai jamu bernama Saiman, warga Desa Banjarmasin mengaku masih bisa panen. Meski tanaman cabai jamu bisa menghasilkan dengan harga jual Rp50.000 per kilogram namun produktivitas buah menurun.

Saiman, petani penanam cabai jamu melakukan pemetikan pada tanaman yang mengalami penurunan produksi selama kemarau, Senin (7/10/2019) – Foto: Henk Widi

Normalnya lahan yang ditanami cabai jamu bisa ditumpangsarikan dengan tanaman jagung. Namun imbas kemarau ia memastikan ia tidak bisa melakukan penanaman jagung.

“Saat ini saya memilih altenatif jadi tukang ojek untuk warga yang akan ke pasar dan anak sekolah,” ungkap Saiman.

Alih profesi sementara waktu disebutnya jadi pilihan akibat pekerjaan sebagai petani terhenti. Ia juga menyebut lahan pertanian miliknya tidak memiliki fasilitas sumur bor dan jauh dari sungai.

Musim kemarau yang masih panjang disebutnya membuat ia tidak bisa menanam jagung dan sejumlah tanaman pertanian lain. Meski beralih menjadi tukang ojek ia masih bisa mendapat hasil puluhan ribu dalam sehari.

Alih profesi pada sejumlah wanita petani juga terjadi di pesisir timur Lamsel. Yuni, petani yang masih bisa menanam jagung dan buruh tanam harus berhenti selama musim kemarau. Beruntung ia tinggal di dekat pantai Desa Ruguk Kecamatan Ketapang. Sebagian petani yang memilih alih profesi sebagai pembudidaya rumput laut menciptakan lapangan pekerjaan.

Yuni, petani penanam jagung yang beralih profesi menjadi buruh panen dan pemetikan rumput laut di Desa Ruguk Kecamatan Ketapang Lampung Selatan, Senin (7/10/2019) – Foto: Henk Widi

“Saya bisa menjadi buruh pengikat bibit dan pemanen rumput laut dengan sistem harian,” tutur Yuni.

Dengan sistem harian ia bisa mendapat upah Rp50.000 per hari untuk memasang bibit rumput laut. Ratusan jalur bibit yang dipanen sebagian langsung ditanam kembali sehingga dipasang pada tali pengikat.

Pekerjaan tersebut menurut Yuni menjadi pilihan baginya selama kemarau sembari menunggu musim penghujan. Sebab meski memiliki lahan satu hektare, saat kemarau ia tidak bisa menanam jagung dan pisang sumber penghasilan baginya.

Lihat juga...