Anak Perantau Wamena di Sumbar Sudah Bisa Sekolah

Editor: Koko Triarko

PESISIR SELATAN – Puluhan anak-anak perantau Wamena, Papua, yang kini berada di kampung halaman di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, akhirnya bisa melanjutkan pendidikannya, setelah adanya kesepakatan dinas pendidikan setempat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pesisir Selatan, Zulkifli, mengatakan, diperkirakan ada sekitar puluhan anak rantau Pesisir Selatan yang kini telah kembali ke kampung halaman pascamengalami kerusuhan di Wamena, Papua. Mereka terdiri dari sekolah dasar, SMP, dan SMA sederajat.

“Kita bersama bupati juga telah berkomitmen untuk mempercepat layanan pendidikan bagi anak-anak perantau yang menjadi korban kerusuhan di Wamena. Kini, setelah adanya kesepakatan bersama, alhamdulillah anak-anak kita itu telah sekolah sesuai di kampung halamannya masing-masing,” katanya, Kamis (10/10/2019).

Dikatakannya, terhitung sejak Rabu (9/10) kemarin, anak-anak para perantau sudah bisa datang ke sekolah terdekat, baik ke SD sederajat, SMP sederajat dan SMA sederajat untuk memulai proses belajar mengajar. Mengenai rapor dan dokumen lainnya bisa menyusul, dan akan dibantu oleh Pemkab Pesisir Selatan.

Menurutnya, untuk anak-anak yang tidak memiliki seragam sekolah dan perlengkapan sekolah lainnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pesisir Selatan juga berupaya memenuhinya secara bertahap.

Untuk memberikan perlengkapan, tentunya ada data yang pasti, siapa saja anak-anak perantau Wamena yang membutuhkan seragam.

“Ada tolerensi bagi pihak sekolah untuk tetap memberikan izin mengikuti proses belajar, bila mereka masuk kelas tanpa menggunakan seragam sekolah yang semestinya. Kondisi diperkirakan tidak bakalan lama, yakni jelang ada bantuan seragam yang datang ke masing-masing anak-anak tersebut,” katanya.

Zulkifli menegaskan, saat ini yang terpenting ialah anak-anak yang pulang dari Wamena tersebut tidak terhenti sekolahnya. Karena di sisi lain, jika dilarang mereka untuk masuk kelas tanpa seragam yang sesuai dengan aturan, bisa menambah beban pikiran anak-anak. Belum lagi kondisi psikologi di lokasi kerusuhan yang mungkin saja masih ada di ingatan mereka.

“Makanya, dengan mereka bisa bersekolah, bisa dapat teman baru, dan bisa bergembira, mereka akan merasakan bahagia kembali, dan tidak memikirkan trauma di Wamena. Kita berharap, selama berada di kampung halaman, anak-anak itu tetap bahagia dan tetap belajar,” ucapnya.

Untuk itu, Zulkifli mengimbau kepada seluruh pelajar atau pun para guru-guru yang menerima siswa/siswi baru yang merupakan anak perantau dari Wamena untuk bisa menerima mereka dengan rasa bangga dan bahagia.

“Jangan sekali-kali mengingatkan mereka tentang kondisi Wamena. Karena memang harapan Pemkab Pesisir Selatan, yang terpenting kini mereka bisa bersekolah dan menikmati masa-masa bahagia sebagai anak-anak saat berada di kampung halamannya,” bebernya.

Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Pesisir Selatan, Muskamal, juga mengatakan, meski anak-anak telah mulai sekolah, persoalan lainnya seperti dokumen kependudukan yang hilang pada insiden tersebut, pihaknya juga siap untuk membuatkannya kembali.

“Untuk memudahkan prosesnya bisa dengan menyerahkan foto kopi KTP atau KK, kalau pun tidak ada cukup beritahu nama lengkap dan alamat selama di Wamena dan kami akan memprosesnya,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya juga siap membantu jika di antara perantau ada yang membutuhkan layanan kesehatan, namun kartu BPJS Kesehatan miliknya rusak.

“Intinya, Pemkab Pesisir Selatan berkomitmen untuk memberikan layanan yang terbaik saat berada di kampung halaman,“ tegasnya

Sedangkan untuk perantau yang tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan, dan menyatakan keinginanan untuk mendaptkan layanan kesehatan, persoalan berobat dan biayanya akan dibantu oleh rumah sakit daerah dan Badan Amik Zakat Pesisir Selatan.

Lihat juga...