hut

Awasi Penyaluran Dana Desa, Pemerintah Butuh Pendamping Desa

Editor: Mahadeva

JEMBER – Pemerintah berencana mengucurkan dana dari APBN sebanyak Rp400 triliun untuk Dana Desa. Alokasi tersebut untuk 2020 hingga 2024.

Dengan jumlah desa yang mencapai 74 ribu lebih, maka setiap desa akan memperoleh dana Rp1 miliar per-tahun. Dengan demikian, penyaluran Dana Desa tersebut wajib diikuti dengan pendampingan dan pengawasan, agar penggunaanya tepat sasaran.

Pemerintah memerlukan mitra sebagai pendamping penyaluran dana desa, salah satunya adalah perguruan tinggi. Perguruan tinggi harus turut aktif mendampingi, agar desa tahu dan paham bagaimana membangun desa berdasarkan potensi dan tantangan yang dimiliki.

“Oleh karena itu saya mengapresiasi kegiatan Universitas Jember Membangun Desa yang salah satunya diwujudkan melalui Program Kuliah Kerja Nyata tematik, yang terbukti mampu memberikan kontribusi kepada desa,” jelas Samsul Widodo, Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), dalam ajang Festival Universitas Jember Membangun Desa (UMD), Rabu (9/10/2019).

Samsul berharap, dengan pendampingan dari perguruan tinggi, penggunaan Dana Desa tidak selalu untuk pembangunan infrastruktur.  Dari data yang dikumpulkan saat ini kebanyakan Dana Desa tesalurkan untuk infrastruktur. Di 2015 sampai 2019, ada 191.600 kilometer jalan yang dibangun, 959.569 fasilitas air bersih, 1,1 juta meter jembatan baru dan 50.854 kegiatan PAUD baru.

“Pembangunan infrastruktur dengan Dana Desa tetap penting, karena di beberapa sektor memang masih membutuhkan, misalnya baru 50.854 fasilitas MCK yang dibangun, sementara menurut Kementerian Kesehatan kita masih perlu 5 juta fasilitas MCK untuk memenuhi kebutuhan seluruh desa di Indonesia,” kata alumnus FISIP UNEJ 1986 tersebut.

Festival UMD diisi dengan kisah sukses para mahasiswa yang menjalani KKN tematik. Salah satunya disampaikan Khoirul Fahri dan kawan-kawan, yang menjalani KKN tematik penanggulangan stunting di Desa Peradong Kabupaten Bangka Barat.

“Dari hasil observasi kami ada 22 balita di Desa Peradong yang menderita stunting, kami kemudian berkoordinasi dengan perangkat desa setempat menjalankan empat program guna menanggulangi stunting, yakni program masak bersama, warung sehat, kaderisasi sukarelawan kesehatan dan Festival Sehat Peradong,” jelas Khoirul Fahri yang merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran.

Program yang dijalankan berhasil. Kini warga Desa Peradong memiliki warung sehat, yang menjual aneka jajanan sehat berbasis potensi lokal. Sukarelawan kesehatan juga aktif menyosialisasikan gaya hidup sehat bagi warga sekitar. Bahkan 22 balita yang awalnya masuk kategori stunting secara pasti beranjak ke garis normal. “Saat kami meninggalkan Desa Peradong, para balita tadi sudah mengalami kenaikan berat badan, rata-rata naik 0,25 kilogram,” ujar Aifa Faradilla dari Fakultas Ilmu Budaya.

Kehadiran mahasiswa KKN tematik juga disambut gembira oleh Rupain, Kepala Desa Peradong yang juga hadir di Festival UMD. “Awalnya kami meminta kehadiran mahasiswa KKN dari beberapa perguruan tinggi sekitar, tapi belum ada respon. Eh malah dari Universitas Jember yang jauh yang hadir. Kami merasa terbantu dengan kehadiran adik-adik mahasiswa, Festival Sehat Peradong yang kami selenggarakan berlangsung sukses bahkan dibuka langsung oleh Asisten satu Pemkab Bangka Barat,” tutur Rupain bangga.

Lihat juga...