hut

Bazar Siaga, Sarana Melatih Generasi Muda Lampung Selatan Menjadi Kreatif

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Generasi muda di Lampung Selatan berkesempatan menjadi wirausaha mandiri dengan bimbingan dan pendampingan dari pemerintah. Termasuk kepada mereka yang menjadi anggota Pramuka Siaga.

Suwarna, anggota tim penilai Lomba Keterampilan Kepramukaan (LKK) Siaga menyebut, sejumlah keterampilan telah diberikan kepada anggota pramuka Siaga. Keterampilan tersebut meliputi kecakapan kuliner, kayu, lukis dan menjahit.

Melalui keterampilan yang diberikan sejak dini, anak dibekali kemampuan untuk berwirausaha secara mandiri. Pendampingan dari guru sekolah bisa dilakukan hingga mampu menciptakan produk kerajinan bernilai jual.

Gerakan Pramuka, melalui sejumlah Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Syarat Kecakapan Khusus (SKU), melatih generasi muda dengan sejumlah keterampilan. Karya yang dibuat biasa diperlombakan dalam kegiatan bazar Siaga.

“Anak anak memiliki bekal kemampuan membuat produk olahan kuliner dari singkong, pisang, jagung dan kerajinan dari kain perca, kertas tidak terpakai. Semuanya disulap menjadi benda seni dan fungsional, seperti lap tangan dan taplak meja, ini perlu dikembangkan,” ungkap Suwarna kepada Cendana News di sela-sela penilaian Bazar Siaga, Selasa (15/10/2019).

Kreativitas menjadi kunci untuk berwirausaha. Hal tersebut sesuai dengan semangat Perkemahan Sehari (Persari) Tingkat Kwartir Cabang Pramuka Lamsel, yang mengusung semangat taqwa, terampil, mandiri dan berprestasi. Kreativitas yang ditampilkan dalam bazar cukup menarik, seperti kuliner berbahan singkong, ubi jalar dan labu. “Anak anak saat ini bisa belajar membuat produk kuliner dari Youtube, dan bisa menghasilkan makanan yang bisa dijual ke rekan sebaya dan menghasilkan uang,” ungkap Suwarna.

Yessi Deyiana, pendamping barung siaga putri SDN 2 Kalianda, Lampung Selatan menyebut, karya yang dihasilkan oleh anak didiknya cukup beragam. “Anak anak dilatih membuat sulaman bermotif bunga dari kain perca untuk taplak meja, tudung saji serta sejumlah hiasan,” tutur Yessi.

Karya yang dihasilkan telah laku dijual, dengan harga yang ditawarkan mulai Rp5.000 hingga Rp65.000 tergantung tingkat kesulitan pembuatan. Uang hasil penjualan dipergunakan untuk membeli bahan baku dan peralatan produksi. Selain dilatih oleh guru pendamping, sekolah juga melibatkan orangtua.

Lihat juga...