hut

Berkat Rengginang Ketan Warga Lamtim Bisa Kuliahkan Anak

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Potensi bahan baku ketan putih, ketan hitam yang melimpah di Lampung Timur (Lamtim) dimanfaatkan warga untuk membuat makanan bernilai jual. Bahkan hasil penjualan dapat digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari hingga menyekolahkan anak hingga jenjang perguruan tinggi.

Warga Desa Jukio, Kecamatan Gunung Pelindung,  Sukarti (45) bersama suami, Suwito (46) mengungkapkan, mereka telah menekuni usaha tersebut sejak lima tahun silam. Dengan bermodalkan uang sekitar Rp500.000, Sukarti membeli bahan baku ketan, bumbu, para para untuk penjemuran dan plastik kemasan.

Sekali proses pembuatan ia menggunakan bahan baku sekitar 5 kilogram beras ketan yang sebelumnya direndam menghilangkan kotoran dan membuat beras lebih lunak.

“Kemudian dikukus dalam dandang dengan tambahan garam, bawang putih dan merica,” ungkap Sukarti saat ditemui Cendana News dalam proses pembuatan rengginang, Selasa (22/10/2019).

Memiliki anak yang sudah kuliah di salah satu perguruan tinggi di Lampung dan satu anak di bangku SMA membuat ia memiliki banyak waktu luang.

Lima kilogram ketan yang sudah tercampur bumbu dibuat menjadi ratusan buah rengginang. Setelah dicetak menggunakan alat khusus berbentuk bulat, rengginang akan dijemur pada para para bambu. Bahan baku ketan yang dipergunakan kerap divariasikan dengan selera konsumen. Selain rasa biasa dengan ciri khas bawang putih, merica rengginang dengan rasa rebon hingga terasi.

“Varian rengginang dengan warna putih, merah dan hitam dari ketan hitam serta beragam rasa menjadikannya banyak pilihan,” tutur Sukarti.

Satu kali proses produksi hingga penjemuran ia membutuhkan waktu sekitar enam jam. Rengginang yang sudah dicetak selanjutnya dijemur pada para para bambu memanfaatkan sinar matahari. Pada kondisi musim kemarau dalam waktu maksimal tiga hari sudah kering. Setelah kering bisa dikemas dengan ukuran berat sekitar 0,5 kilogram.

Mendapatkan omzet sekitar Rp1juta setiap dua pekan, Sukarti bisa membantu ekonomi keluarga. Suami yang bekerja sebagai petani padi ikut mendukung usaha yang ditekuninya. Terlebih produksi rengginang bisa dikerjakan dengan sederhana dan bisa memanfaatkan waktu luang.

“Berkat usaha tersebut saya bisa membiayai kuliah anak,” sebutnya.

Biaya untuk kuliah bagi sang anak disebutnya berupa uang sewa kontrakan, biaya makan, biaya semester dan sejumlah biaya operasional lain.

Selain mengandalkan hasil pertanian Sukarti menyebut dengan usaha pembuatan rengginang ia bisa membantu sang suami untuk memenuhi biaya pendidikan anak. Selain dipasarkan pada lingkup kecamatan, anaknya juga ikut memasarkan kepada rekan rekannya sebagai camilan.

Lihat juga...