hut

BPJS Kes: Tunggakan Iuran Peserta di Bekasi Lebih Rp3 Miliar

Editor: Koko Triarko

BEKASI – BPJS Kesehatan kantor cabang Bekasi, Jawa Barat, mengaku jumlah tunggakan peserta di wilayah setempat masih tinggi. Meski tidak merinci jumlah pasti, ia memperkirakan jumlah tunggakan mencapai lebih Rp3 miliar.

“BPJS Kesehatan Bekasi terus melakukan beragam upaya untuk menagih tunggakan iuran dari peserta yang menunggak. Salah satunya melalui telepon atau mendatangi langsung peserta yang menunggak, karena dikhawatirkan mereka lupa,” Eddy Sulistijanto Hadie, Kacab BPJS Bekasi,
usai mengisi seminar di Kampus Unisma Bekasi, Selasa (22/10/2019) sore.

Hal lain yang dilakukan, yakni dengan mencari donatur yang bisa membayar secara kesinambungan, bagi mereka yang tidak mampu membayar iuran BPJS.

Eddy Sulistijanto Hadie, Kacab BPJS Bekasi, saat menyampaikan materi dalam seminar kesehatan di Fakultas Fisip Unisma, Bekasi, Selasa (22/10/2019). –Foto: M Amin.

“Upaya agar iuran BPJS Kesehatan dengan menelepon langsung, sms blaz, atau koordinasi dengan kader JKN yang ada di kelurahan untuk mengingatkan pembayaran iuran,” ujarnya.
Lebih lanjut dia mengklaim, bahwa pembayaran BPJS ke rumah sakit yang ditujukan sebagai rujukan berjalan lancar tanpa kendala. Meskipun telat, BPJS Kesehatan akan memberin kompensasi lebih bayar hampir mencapai satu persen.

“Saat ini, ada 38 rumah sakit menjadi sarana rujukan BPJS, memang belum semua RS yang ada di Bekasi menjadi rujukan,” tandasnya.

Dalam kesempatan itu, dia juga menanggapi program Kartu Sehat (KS) berbasis NIK Kota Bekasi, yang menurutnya tidak mengganggu program BPJS. Terpenting, sesuai mekanisme dan aturan berlaku.

Menurutnya, tergantung orang memaknai. Jika dia masuk dalam program KS juga memiliki kartu BPJS, bisa memilih menggunakan yang mana.

“Soal integrasi, masih tahap koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Bekasi. Sudah ada sebagian yang diintegrasikan,” ujarnya.

Terkait banyaknya keluhan peserta BPJS, dia mengaku akan mencoba sinkronisasi dengan asosiasi rumah sakit swasta, untuk mencari jalan keluarnya.

“Masukan dan kritikan memang diperlukan untuk kebaikan BPJS. Karena kami tidak mungkin mengawasi pelayanan detik demi detik,” tutupnya.

Lihat juga...