hut

BRG Ungkap Alasan Pemadaman Gambut Sukar Dilakukan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan yang melanda sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan disebut sulit untuk dipadamkan. Karena lahan yang terbakar adalah lahan gambut. Ketebalan lapisan gambut mempersulit para pemadam untuk menghilangkan bara api.

Deputi Bidang Konstruksi, Operasional dan Pemeliharaan Badan Restorasi Gambut (BRG), Dr. Alue Dohong, menjelaskan, bahwa gambut adalah material organik yang terbentuk secara alami dari sisa-sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna.

“Proses pembentukan ini berlangsung lama. Sehingga usia lahan gambut ini bisa jutaan tahun. Ketebalannya antara 50 cm hingga puluhan meter,” kata Alue saat talk show HAGI di Gedung Pasca Sarjana UI Salemba Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Alue menjelaskan proses formasi gambut dimulai saat air sungai dan air hujan yang tidak terserap lagi oleh tanah, tertahan di daerah depresi area tanah mineral.

“Saat terbentuk vegetasi di area tersebut, maka bahan organik dari daun dan akar tumbuhan terakumulasi. Perlambatan dekomposisi terjadi karena area miskin aerasi dan menyebabkan tingkat keasaman tanah meningkat,” urainya.

Kondisi ini menyebabkan terbentuknya hutan rawa gambut.

“Proses ini terus berulang hingga lapisan gambut terbentuk dengan estimasi ketebalan yang tercipta antara 0,5 hingga 2 milimeter per tahun,” ujar Alue.

Oleh karena itu, bisa disebutkan bahwa ekosistem asli gambut itu adalah air, vegetasi dan tanah.

“Jika terjadi gangguan pada kandungan airnya, maka keseimbangan gambut ini akan terganggu,” tandasnya.

Ia menyebutkan gangguan ini bisa berupa pembuatan kanal atau pengolahan lahan yang tidak tepat. Atau saat musim kemarau berlangsung panjang dan sangat kering, lahan gambut ini akan menjadi kering dan mudah terbakar. Akibatnya, jika ada api yang terpicu maka akan terbakar dengan mudah.

“Gambut ini mengandung bahan bakar, yaitu sisa tumbuhan, sampai jam di bawah permukaan. Sehingga api yang tercipta di lahan gambut akan menjalar hingga ke bawah permukaan secara lambat dan susah dideteksi. Dan kebakaran ini juga menimbulkan asap tebal,” paparnya.

Inilah yang menyebabkan api di lahan gambut sulit dipadamkan dan bisa berlangsung dalam waktu lama.

Deputi Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Herizal, menyebutkan pemadaman api di lahan gambut membutuhkan hujan yang intensif.

Deputi Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal, memaparkan pemadaman api di lahan gambut membutuhkan hujan yang intensif, Rabu (2/10/2019) – Foto: Ranny Supusepa

“Keputusan pemerintah untuk melakukan TMC saat kandungan air di awan sesuai, memang bisa menghasilkan hujan. Yang diharapkan dapat memadamkan api yang ada di lahan gambut. Tapi yang paling tepat adalah jika terjadi hujan secara rutin dengan curah hujan yang cukup tinggi,” pungkasnya.

Menurut data BRG menunjukkan luasan lahan gambut yang terbakar  di Indonesia tahun 2019 ini mencapai 2,6 juta hektare.

Lihat juga...