hut

Dirut TMII: Pak Harto Menginspirasi Semangat Berjuang

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Direktur Utama Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Tanribali Lamo, mengaku kagum terhadap sosok Presiden Kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto yang sangat menginspirasi semangat perjuangan.

Menurut Tanri, Pak Harto terlahir dari rakyat biasa yang berjuang dengan segenap jiwa dan raga dalam membela negara.

“Pak Parto berjuang dari KNIL, kemudian dari Keho di zaman Belanda. Kemudian PETA, BKR, TKR dan berganti jadi TNI. Jadi jenjang karir Pak Harto itu d ilapangan memang luar biasa. Sehingga pemahaman terhadap kondisi masyarakat itu sangat kental,” kata Tanri dalam sambutannya pada diskusi buku ’50 Inisiatif Pak Harto untuk Indonesia dan Dunia’ di Candi Bentar TMII, Jakarta, Sabtu (19/10/2019) sore.

Tanri berkisah dalam perjalanan karir di TNI, dirinya menembus kesuksesan pemimpin karena terinspirasi sosok Pak Harto.

“Pak Harto tidak pernah lepas dari kami. Saya dilantik oleh Pak Harto pada tahun 1974. Pak Harto yang menandatangani surat keputusan pangkat saya menjadi kolonel,” ujarnya.

Dalam dunia TNI, sebut dia, ada istilah kalau ingin naik bintang, maka harus sering tidur di luar agar kejatuhan bintang.

“Alhamdulilah saya bisa tepat waktu pada usia 40 tahun sesuai jenjang karir, saya berpangkat kolonel. Dan tahun 1999, saya bintang satu sudah. Tapi bukan Pak Harto yang menandatangi SK saya,” ujarnya.

Menurutnya, pemimpin itu lahir pada zamannya. Dan Allah SWT menciptakan pemimpin dari kaumnya sendiri.

Namun kata dia, yang menjadi masalah kita sekarang ini bagaimana pemimpin itu memahami rakyatnya.

“Itu yang barangkali tidak bisa semua. Pak Harto yang lahir dari rakyat biasa dengan jenjang karirnya, lalu menjadi pemimpin sangat luar bisa memahami kondisi masyarakat,” tukasnya.

Buku ini menurutnya, sangat memberikan pelajaran bagi masyarakat. Namun Tanri mempertanyakan kepada penulis. Yakni dari sekian pemikiran cemerlang Pak Harto, penulis hanya mengambil 50 inspirasi.

“Saya sempat bertanya dalam hati mengapa cuma ambil 50. Kemudian judul adalah 50 inisiatif. Tetapi bukan 50 kebijakan Pak Harto. Apa bedanya,  ini yang jadi pertanyaan saya buat penulis?” kata Tanri.

Karena kalau sekedar inspirasi, menurutnya, setiap orang juga bisa punya inspirasi. Tetapi bagaimana orang mengambil kebijakan. Kemudian kebijakan itu dikelola sehingga menjadi suatu keputusan yang bermanfaat bagi rakyat. Itu tidak semua orang punya.

“Dan saya kira Pak Harto pada posisi 32 tahun itu mungkin berbeda dengan lain. Kalau saya tadi katakan pemimpin lahir pada zamannya, ya memang seperti itu. Saya kira tidak bisa kita bandingkan si A, si B atau si C, karena kondisinya berbeda.

Tanri bersyukur diskusi buku ’50 Inisiatif Pak Harto untuk Indonesia dan Dunia’ dapat digelar di TMII. Sebelumnya diskusi tentang buku ini telah dilakukan di berbagai perguruan tinggi.

“Mohon maaf itu sedikit komentar saya kepada penulis. Dan saya merasa bangga diskusi buku ’50 Inisiatif Pak Harto untuk Indonesia dan Dunia’ putaran ke 10 dilaksanakan di TMII,” tutupnya.

Lihat juga...