hut

DKP Ancam Tenggelamkan Bagan Beroperasi di Danau Singkarak

Editor: Koko Triarko

PADANG – Hingga saat ini, masih saja ada sejumlah bagan nelayan yang beroperasi mencari ikan bilih di Danau Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Padahal, beberapa kali tim gabungan terdiri dari TNI, Polri, Satpol PP, serta Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatra Barat, telah melakukan penertiban, bahkan menarik dan membongkar bagan membandel yang ada di danau tersebut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikana Sumatra Barat, Yosmeri, pun mengaku geram dengan tindakan para nelayan tersebut. Sebagai langkah tegas, bagan yang membandel itu akan ditenggelamkan.

“Kami rasa sudah cukup memberikan toleransi kepada para bagan itu. Pertama telah diingatkan, tapi diacuhkan, selanjutnya kita lakukan penertiban, eh ternyata cuma sebentar saja, dan kembali beroperasi. Ya, menurut saya tenggelamkan saja,” katanya, Selasa (15/10/2019).

Saat ini, pihaknya tengah menunggu data dan segala surat menyurat dari Pemerintah Nagari/Desa setempat. Karena sebelum melakukan tindakan, perlu untuk mengetahui jumlah dan apa alasan mereka untuk nekat kembali beroperasi.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatra Barat, Yosmeri. -saat ditemui di atas kapal usai melakukan pelepasan penyu, di perairan Laut Bungus, Kota Padang, Sumatra Barat, Jumat (27/9/2019). -Dok: CDN

Dikatakannya, tujuan pemerintah untuk tidak memberi izin kepada bagan untuk beroperasi di Danau Singkarak, sebagai upaya penyelamatan populasi ikan bilih, yang kini mulai berkurang, karena sistem menangkap ikan yang dilakukan oleh bagan, amat merusak perkembangan ikan bilih.

“Menangkap ikan bilihnya sampai terbawa yang kecil-kecilnya itu. Jika dibiarkan, bisa habis ikan bilih di Danau Singkarak ini. Karena sama-sama kita ketahui, bahwa ikan bilih itu hanya ada di Danau Singkarak, dan satu-satunya ada di Sumatra Barat ini,” ucapnya.

Yosmeri menyebutkan, sejak ada bagan yang menangkap ikan di sepanjang Danau Singkarak, persentase ikan bilih di sana mengalami penurunan hingga 80 persen. Bahkan ketika dilakukan razia terdahulu, untuk mencari ikan satu kilogram saja sangat sulit, sebab volume ikan yang terus mengalami penurunan.

“Ikan bilih ini dikabarkan populasi tinggal sedikit. Kondisi ini ternyata berimbas kepada masyarakat yang mengantungkan hidupnya dari pengolahan ikan bilih. Mereka sulit untuk mencari ikan bilih, untuk dibuat berbagai makanan khas Danau Singkarak,” tegasnya.

Ditambahkanya, saat ini ada sekitar 5.000 nelayan tradisional yang menggantungkan ekonomi hidupnya ke Danau Singkarak. Ikan bilih merupakan ikan khas yang ada di danau tersebut. Kini, nelayan tradisional dihadapkan dengan adanya nelayan bagan.

Ia berharap, Danau Singkarak tidak seperti Danau Maninjau, yang kini jumlah kerambanya mencapai angka sekitar 21.000, dan jumlah keramba yang seperti itu dapat mengganggu danau.

Pada kapasitas semestinya hanya sekitar 6.000. Untuk itu, diminta kepada pengguna bagan dan seluruh komponen masyarakat bisa menjaga danau.

Dinas Kelautan dan Perikanan juga menyinggung tentang tata ruang yang ada di sekitar Danau Singkarak, agar ditata lebih baik lagi. Masyarakat diimbau agar tidak membangun rumah di kawasan danau, karena selain dapat menutup pemandangan ke arah danau, juga dikhawatirkan limbah rumah tangga mengganggu populasi ikan yang ada di dalam danau.

Lihat juga...