hut

Emil Salim: Lahan Gambut Bukan Tanah Biasa

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Terus berulangnya peristiwa kebakaran lahan dan hutan di banyak daerah, telah membuat masyarakat bertanya-tanya. Mengapa terus terjadi, dan adakah solusi yang bisa mencegahnya? Berangkat dari fenomena tersebut, Cendana News mencoba menggali pengalaman dari seorang ekonom, yang juga mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup di masa Presiden Soeharto, Profesor Dr. Emil Salim.

Prof. Dr. Emil Salim, pun menjelaskan penyebab seringnya terjadi kebakaran lahan gambut, berdasarkan keterangan para ahli yang pernah dimintai pendapat.

Dikatakan, bahwa gambut itu tidak sama dengan tanah biasa, melainkan sisa-sisa dari tanaman yang berkumpul, tetapi di bawahnya terdapat air.

Bila air tersebut dikeluarkan (irigasi), temperatur di bawah akan berubah, maka gambut tersebut peka terhadap kebakaran.

“Pada 2015, sebelum terjadinya kebakaran, dengan pengalaman pengetahuan yang sudah saya dapat, kemudian bertemu dengan Gubernur Riau, dan menceritakan perihal lahan gambut tersebut. Namun sayang, Pak Gubernur tidak sependapat dengan masukan dari para ahli, bahwa lahan gambut tersebut dapat dimanfaatkan dengan budi daya ikan patin, arwana, atau sejenisnya, bukan kelapa sawit,” ungkapnya, saat ditemui di kediamannya di jalan Patra Kuning, Jakarta, Senin (21/10/2019).

Menurut Emil Salim, pada tahun itu kebakaran melanda karena di bawah lahan gambut tersebut volume airnya menjadi turun (mengalir keluar) akibat adanya akar kelapa sawit yang menerobos masuk ke dalam.

Ia pun menegaskan lagi, bahwa lahan gambut bukanlah tanah, melainkan ampas-ampas yang jika padat, dalam waktu lama akan menjadi batu bara. Kemudian, batu bara itu lama-lama akan menjadi minyak bumi, sehingga lahan tersebut memuat bahan bakar.

“Ketika temperatur air berubah, itulah yang akhirnya menimbulkan panas sehingga terjadi kebakaran,” jelas Emil Salim.

Dengan kejadian kebakaran besar pada 2015 itu, ia menduga pemerintah sudah paham dan mengerti akan sebab dari kebakaran.

“Tetapi, ternyata tidak paham. Justru di 2019 kembali terjadi,” katanya.

Karena itu, Emil Salim mengatakan, bahwa solusi yang harus dilakukan bukan dengan menanam kelapa sawit. Tetapi untuk penguatan air, salah satunya dengan menanam sagu. Atau dengan upaya lain guna menjaga volume air, yang berhubungan dengan ekosistem tersebut, yakni budi daya ikan.

“Kalimantan itu sebagian besar lahan gambut, dan gambut jika sudah tua menjadi batu bara. Karena itu, ada batu bara di Kalimantan. Lama-lama, batu bara menjadi minyak, karena itulah Balikpapan ada minyak,” jelas, lagi.

Emil Salim mengingatkan, bahwa ekosistem juga melahirkan masyarakat sosial. Masyarakat Dayak hidup dari ekosistem yang tidak membakar tanah. Para pendatang justru merusak tatanan ekosistem yang sudah ada.

“Maka, solusi yang bisa saya sampaikan untuk saat ini adalah menjaga ekosistem, dan pemerintah harus memperhatikan budaya di sana,” tutupnya.

Lihat juga...