Gagasan Ibu Tien Soeharto Bangun Museum di TMII Sangat Visioner

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kasubdit Permuseuman Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Dedah Rufaedah Sri Handari, mengaku, kagum dengan Ibu Negara Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto, pemrakarsa Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Menurutnya, pemikiran Ibu Tien Soeharto sangat cemerlang dalam membangun bangsa dan pengembangan serta pelestarian budaya yang diwujudkan dalam satu wahana bernama TMII.

“Gagasan Ibu Tien Soeharto sangat visioner. Beliau bisa memikirkan bagaimana anak Indonesia itu jadi cerdas. Tentu tidak hanya dipikirkan tapi diwujudkan nyata bisa dinikmati oleh masyarakat dengan hadirnya TMII ini,” kata Dedah kepada Cendana News saat ditemui di area TMII, Jakarta, Selasa (29/10/2019).

Kasubdit Permuseuman, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Dedah Rufaedah Sri Handari, saat ditemui di Museum Pusaka TMII, Jakarta, Selasa (29/10/2019). Foto: Sri Sugiarti.

Dia mengaku kerap berkunjung ke TMII melihat keindahan danau miniatur Indonesia yang berada di tengah-tengah area TMII. Danau ini menggambarkan ribuan pulau Indonesia yang dikelilingi anjungan-anjungan daerah.

“Saya senang ke TMII, lihat danau miniatur Indonesia. Dengan naik perahu angsa, seolah-olah kita hadir di semua provinsi itu. Ini menjadikan saya cinta budaya bangsa,” ujarnya.

Selain anjungan daerah, tambah dia, Ibu Tien Soeharto dengan ide cemerlangnya menghadirkan museum-museum di TMII. Salah satunya, Museum Indonesia TMII.

“Saat masuk museum ini, dalam benak saya, Ibu Tien Soeharto dengan penuh semangat dan kecintaan pada budaya bangsa membangun museum ini,” ujar Dedah.

Ini dibuktikan dari semua material yang dibuat untuk membangun museum ini dipikirkan dengan pelestarian khazanah budaya Indonesia.

Contohnya, sebut dia, dari pemilihan bahan material dengan detilnya menjadikan Museum Indonesia TMII begitu megah dan kokoh dalam bentuk bangunan bergaya Jawa Bali, yang terdiri dari tiga lantai.

Dengan koleksi yang terbagi dalam tiga tema. Yakni lantai pertama bertema Bhinneka Tunggal Ika yang menampilkan keragamanan pakaian adat dan pengantin.

Lantai dua, bertema manusia dan lingkungan. Sedangkan lantai tiga yakni seni dan karya yang menampilkan hasil seni garapan dan ciptaan baru.

Melalui filosofi Tri Hita Kirana, seorang arsitek bernama Ida Bagus Tugur mengembangkan museum tersebut. Filosofi menjelaskan adanya tiga sumber kebahagiaan manusia, yakni hubungan sesama manusia, hubungan manusia dengan lingkungannya dan manusia dengan Tuhan.

Disamping Museum Indonesia TMII terdapat patung naga menghiasi jembatan masuk ke ruang museum. Ini lambang jembatan yang dibuat pasukan wanara anak buah Raja Wanara Sugriwa, saat Rama menyerbu Alengka.

Dalam kisah Ramayana versi Jawa, jembatan itu bernama Situbondo atau Situbondolayu yang dirancang Hanila. Yakni, kera sakti berbulu biru tua. Kera ini adalah anak angkat Batara Narada, penasihat dan tangan kanan Batara Guru, raja kahyangan.

Relief Kala berukuran besar terpasang di atas pintu masuk Museum Indonesia TMII, dengan naga menjadi penghias pilarnya.

Sedangkan di halaman museum dihiasi pohon-pohon tua dan patung-patung dari kisah Ramayana.

Museum Indonesia TMII dibangun tahun 1976, dan diresmikan oleh Presiden kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto pada 20 April 1980 bertepatan dengan HUT ke 5 TMII.

Menurutnya, dibandingkan saat ini dimana provinsi dan kabupaten kota banyak yang membangun museum, namun sangatlah berbeda dengan pemikiran Ibu Tien Soeharto ketika dulu Beliau mengagas museum di TMII.

“Contohnya, Museum Indonesia dan Museum Pusaka TMII. Kita lihat dari arsitektur interior dan elemen yang ada di bangunan itu sangat detil begitu indah sarat nilai sejarah bangsa,” ujarnya.

Museum Pusaka dibangun dengan bentuk limas segi lima yang melambangkan Pancasila. Bagian puncaknya terdapat keris sebagai simbol mewakili pusaka tradisional milik bangsa.

Suasana di Museum Pusaka TMII, Jakarta, Selasa (29/10/2019). Foto: Sri Sugiarti

Museum ini menyimpan ribuan koleksi pusaka senjata warisan leluhur bangsa Indonesia.

Menurut Dedah, pemikiran cemerlang Ibu Tien Soeharto merupakan anugerah yang sangat luar biasa bagi kemajuan bangsa.

“Kita harus syukuri pemikiran Ibu Tien Soeharto itu anugerah, bagaimana Beliau memberikan warisan atau pembelajaran budaya kepada generasi milenial,” tukasnya.

Sehingga begitu banyak aspirasi Ibu Tien Soeharto yang bisa diambil oleh masyarakat dari museum-museum yang ada di TMII.

“Saya ingat ketika dulu setiap HUT TMII selalu dibangun museum. Itu kan tidak mudah ya,” ujarnya.

Karena tambah dia, melihat sekarang  pembangunan museum itu sampai memakan waktu bertahun-tahun, dari mulai persiapan sampai kepada bangunan resmi bisa dioperasikan.

Menurutnya, betapa luar biasa ide Ibunda dari Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Soeharto ini dalam pelestarian budaya. “Ibu Tien sangat cerdas, kita belum berpikir. Tapi Beliau berpikir sangat jauh ke depan bagaimana mengangkat Indonesia di mata generasi mendatang,” tegas Dedah.

Di TMII terdapat 20 museum, yang sebagian dikelola manajemen TMII. Dan sebagian lagi pengelolaannya oleh kementerian atau lembaga. Namun kehadiran museum-museum tersebut atas pemrakarsa Ibu Tien Soeharto.

Dedah berharap pengelolaan museum TMII bisa lebih baik lagi. Memang menurutnya, seperti Museum Listrik dan Energi Baru yang menjadi tanggungjawab lembaga, sudah sangat bagus penataan dan program publiknya.

Karena tentunya museum itu seperti dalam definisinya adalah wahana yang terbuka untuk umum dan siap melayani masyarakat sesuai perkembangannya.

Apalagi masyarakat sekarang ini sangat dekat dengan gadget untuk mendapatkan ragam informasi. Sehingga semaksimal mungkin gadget juga bisa dimanfaatkan untuk pengembangan museum.

“Ada beberapa museum di TMII yang sudah bisa kita akses informasinya lewat gadget,” ujarnya.

Dedah berharap museum yang ada di bawah pengelolaan TMII bisa bersinergi dengan museum milik kementerian atau lembaga.

“Kalau bersinergi, insyaallah akan lebih baik mewujudkan semangat melestarikan sejarah bangsa di museum-museum yang berada di TMII,” ujarnya.

Apalagi kata dia, International Council of museums (Dewan Museum International) itu sangat jelas, bahwa museum harus melayani masyarakat. Dan masyarakat itu tidak statis, akan terus berubah.

Sehingga sesuai dengan perubahan dari masyarakat itu sendiri, maka museum itu pun harus mau melakukan perubahan-perubahan.

Dia mengimbau agar peran museum diharapkan menjadi konkret dan menginspirasi banyak pihak. Yakni museum sebagai sumber ilmu pengetahuan dan pendidikan.

“Keberadaan museum juga untuk memajukan kebudayaan, membangun demokrasi, memperkuat toleransi serta persatuan dan kesatuan bangsa. Ini tentunya sesuai pesan Ibu Tien Soeharto,” pungkasnya.

Lihat juga...