Gas Melon Langka, Warga Bantul Rela Antre Berjam-jam

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Mahalnya harga jual gas elpiji eceran ukuran 3 kilogram, membuat sejumlah warga di Bantul rela mengantre hingga berjam-jam untuk mendapatkan gas bersubsidi seharga Rp15.500 per tabungnya. Cukup langkanya gas elpiji di sejumlah lokasi ditengarai mengakibatkan harga jual eceran gas melon itu melambung hingga mencapai Rp25.000 per tabung. 

Seperti terlihat di kawasan Caturharjo, Pandak, Bantul. Puluhan warga nampak mengantre di sebuah pangkalan gas elpiji sejak pagi. Mereka datang untuk membeli gas melon, guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Demi mendapatkan harga murah, mereka bahkan rela mengantre hingga 3 jam lebih.

Daliyem, warga dusun Gunturan mengaku datang ke pangkalan sejak pukul 08.00 WIB. Namun ia baru mendapatkan gas elpiji ukuran 3 kilogram pada pukul 11.00 WIB. Meski mengantre selama 3 jam lebih, ia pun hanya bisa membawa pulang satu tabung gas saja, karena diberlakukannya pembatasan jumlah pembelian bagi setiap warga pembeli.

“Saya sudah mengantre sejak jam 8 pagi tadi. Ini jam segini (11.00 ) baru dapat. Dapatnya juga cuma satu tabung. Padahal, saya sudah bawa dua tabung untuk digunakan sendiri,” ujarnya, Rabu (9/10/2019).

Hal senada juga diungkapkan warga lainnya, Tia, asal dusun Samparan, Caturharjo, Pandak. Ia mengaku rela mengantre di pangkalan hingga berjam-jam, karena ingin mendapatkan gas melon dengan harga murah.

Pasalnya, sejak beberapa waktu terakhir, harga jual gas melon di warung-warung sekitarnya mengalami kenaikan hingga mencapai Rp25 ribu per tabung.

“Sejak beberapa hari terakhir agak sulit. Harganya juga naik. Bahkan, ada yang sampai Rp25 ribu per tabung. Makanya, saya memilih membeli di sini, meskipun harus antre,” ungkapnya.

Mijah, warga lainnya asal dusun Kuroboyo, berharap agar persoalan kelangkaan gas elpiji yang kerap terjadi selama ini dapat diatasi pemerintah. Sehingga, harga jual gas eceran di tiap daerah bisa stabil dan tidak terlalu terpaut jauh dari harga jual di tingkat pangkalan.

Pasalnya, hal semacam ini dinilai sangat menyulitkan dan merugikan masyarakat kecil.

“Jelas merugikan, karena membuang-buang waktu. Kalau tidak butuh, ya ngapain kita mau bela-bela antre seperti ini,” kesahnya.

Lihat juga...