Guru di Pulau Rimau Balak Harapkan Tunjangan Khusus Daerah Terpencil

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Rutinitas mengajar di pulau Rimau Balak sudah dilakukan oleh Sudarso sejak belasan tahun silam. Setiap hari ia harus berangkat dari dermaga Keramat untuk mengajar di SDN 5 Sumur, Desa Sumur Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan (Lamsel). Ditempatkan di salah satu pulau terluar di Lamsel dilakoninya meski biaya untuk aktivitas tersebut cukup besar.

Sudarso menyebut ia bersama kepala sekolah, Sukirdi dan 6 guru lain memakai perahu menuju ke pulau. Perjalanan dilakukan dari tempat tinggalnya di Bakauheni menggunakan sepeda motor, perahu dan dilanjutkan jalan kaki.

Ia dan sejumlah guru disebutnya sudah pernah mengajukan usulan insentif atau tunjangan khusus sejak 2009. Usulan tersebut hingga kini belum terealisasi. 

“Langkah usulan dengan menyertakan syarat administrasi pernah kami sampaikan ke Dinas Pendidikan tapi hingga kini masih menunggu kejelasan terkait intensif guru di daerah terpencil,” ungkap Sudarso saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (10/10/2019).

Dikatakan, bantuan selama ini sebagian besar berasal dari sejumlah lembaga non pemerintah. Pada 2015 ia menyebut sekolah dan siswa mendapat bantuan peralatan dari Komunitas 1000 Guru yang peduli pada pendidikan di pulau terpencil.

Perhatian juga diberikan oleh personil Satuan Polisi Perairan (Satpolair) Polres Lamsel dengan bantuan peralatan sekolah bagi siswa. Atas usulan sejumlah komunitas pada 2017 sekolah juga mendapat bantuan fasilitas perahu. Perahu dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lamsel senilai Rp15juta tersebut hingga kini digunakan untuk aktivitas penyeberangan guru.

“Biaya operasional untuk bahan bakar harus menggunakan uang pribadi yang jika dikalkukasi per bulan tentu sangat besar,” ungkap Sudarso.

Harapan untuk memperoleh tunjangan tersebut menurut Sudarso sangat beralasan. Sebab saat ini dengan siswa sebanyak 50 orang, ia dan sejumlah guru di SDN 5 Sumur harus pulang pergi memakai perahu.

Ia juga berharap sejumlah pihak terutama wakil rakyat bisa memperjuangkan nasib guru yang ada di pulau terpencil. Sebab beban yang dihadapi lebih sulit dibandingkan yang ada di kota.

Sejumlah guru memanfaatkan fasilitas perahu bantuan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Selatan yang digunakan untuk aktivitas para guru dan siswa dari pulau Rimau Balak ke pulau Sumatera. Foto: Henk Widi

Kepala sekolah SDN 5 Sumur, Sukirdi menyebutkan, usulan terkait tunjangan khusus sangat mendasar. Sebab sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 107 Tahun 2017 Tentang Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2017 tunjangan khusus dialokasikan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) nonfisik untuk guru PNSD. Sejumlah syarat administrasi menurut Sukirdi telah dipenuhi meski perhatian belum diperolehnya.

“Kami menunggu agar tunjangan khusus bisa kami terima karena sesuai dengan wilayah sekolah kami ada di pulau terpencil,” papar Sukirdi.

Meski demikian Sukirdi menyebut belum adanya kejelasan soal tunjangan khusus tidak menyurutkannya mengabdi. Ia sudah mengabdi di sekolah tersebut sejak tahun 1989 atau sejak sekolah berdiri.

Pengabdian bagi anak anak di pulau terpencil disebutnya masih terus dilakukan dengan fasilitas yang ada. Ia mengaku bisa pulang pergi dengan perahu saat cuaca baik, namun menginap di pulau saat kondisi cuaca buruk.

Lihat juga...