hut

Guru Jarang Masuk, Siswa SMPN 2 Nita-Sikka Mengadu ke Dinas PKO

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Belasan siswa SMPN 2 Nita di kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mengadukan sejumlah gurunya dan kepala sekolah ke Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olah Raga (PKO) setempat, karena tak masuk kerja untuk mengajar para siswa.

Menurut para siswa, sejumlah guru honorer tidak masuk sekolah, karena selama 11 bulan belum menerima honor mengajar dari sekolah.

“Para guru tidak menerima honor, sehingga pantas saja mereka tidak pernah mengajar. Kepala sekolah juga jarang masuk sekolah,” kata Imakulata Reni, salah warga desa Nirangkliung, kepada media, di kantor dinas PKO Sikka, Kamis (10/10/2019).

Para siswa dan orang tua datang ke dinas PKO Sikka, sebab kata Reni, kepala sekolah Benyamin Sareng dan para guru jarang masuk sekolah.

Para guru biasanya masuk sekolah jam 09.00 atau 10.00 WITA dan hanya mengajar selama satu sampai dua jam. Selebihnya anak-anak bermain di halaman sekolah dan di dalam kelas hingga jam belajar selesai.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olah Raga (PKO) Kabupaten Sikka, Manyela da Cunha. -Foto: Ebed de Rosary

“Para orang tua meminta agar kepala sekolah diberhentikan, dan dinas PKO Sikka mengawasi proses belajar mengajar di sekolah ini,” sebutnya.

Sementara itu ,Pelaksana Tugas (Plt) kepala dinas PKO Sikka, Manyela da Cunha, mengatakan, pihaknya hari ini, Kamis (10/10) mengeluarkan surat pencopotan Benyamin Sareng dari jabatan kepala sekolah.

Yell, sapaannya, menambahkan, pihaknya pun segera menyampaikan hal ini kepada Bupati Sikka, agar segera memerintahkan inspektorat Sikka melakukan audit keuangan di sekolah negeri tersebut.

“Hari ini juga surat pencopotan kepala sekolahnya kami keluarkan, dan kami akan minta bupati supaya meminta dinas inspektorat melakukan audit di sekolah ini,” tuturnya.

Untuk mengisi kekosongan jabatan kepala sekolah, kata Yell, sementara akan ditempati oleh pelaksana tugas sampai kepala sekolah definitif ditetapkan.

Pihaknya berharap, agar pelaksana tugas segera memperbaiki kondisi yang ada di sekolah tersebut, dan menyelesaikan permasalahan pembayaran gaji guru honorer.

“Pada Rabu (9/10/2019), setelah mendapat laporan, saya  datang ke sekolah itu mengecek langsung kondisi  sekolah. Ternyata informasi yang saya terima benar adanya,” ungkapnya.

Yell mengaku hanya menemukan 3 orang guru saja yang sedang mengajar, dari 14 orang guru yang bertugas di sekolah ini. Dirinya pun tidak mengetahui keberadaan kepala sekolah.

Lihat juga...