hut

Harga Jual Singkong di Lamtim Meningkat

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Hasil panen komoditas singkong petani di Lampung Timur (Lamtim) menurun akibat kemarau panjang yang melanda daerah tersebut. Hal tersebut juga berdampak terhadap meningkatnya harga jual dibandingkan dengan musim tanam sebelumnya.

Tarsan, pemilik lahan yang ditanami singkong Thailand. Foto: Henk Widi

Tarsan, petani di Desa Jukio, Kecamatan Gunung Pelindung yang menanam sekitar satu hektare singkong varietas UJ-3 atau singkong Thailand menyebutkan, pada musim tanam tahun sebelumnya, per kilogram Rp500. Kemarau yang berimbas luas lahan tanaman singkong berkurang membuat harga naik dua kali lipat.

“Hasil produksi yang menurun membuat pasokan ke sejumlah pabrik pengolah tepung tapioka berkurang sehingga harga singkong naik dua kali lipat,” ungkap Tarsan saat ditemui Cendana News tengah melakukan panen singkong di kebun miliknya, Senin (21/10/2019).

Meski memanen sekitar 3 ton singkong, ia menjual singkong Thailand ke pabrik sebanyak 2,5 ton dengan harga Rp1.000 per kilogram. Sementara sisanya sebanyak 500 kilogram dijual ke pembuat gaplek dan tiwul dengan harga sama ia memperoleh hasil Rp500ribu.

“Total saya bisa mendapatkan hasil sekitar tiga juta rupiah dari panen singkong Thailand saat kemarau,” tuturnya.

Hasil tersebut menurutnya lebih banyak dibandingkan sebelumnya namun hasil penjualan lebih banyak. Mendapatkan hasil 5 ton pada musim sebelumnya ia hanya memperoleh Rp5juta karena per kilogram singkong dijual hanya Rp500.

“Meski produksi menurun saat panen petani di Lamtim sedang mendapatkan harga yang bagus,” ungkap Tarsan.

Sumirah, pengrajin gaplek dan beras tiwul menyebut bahan baku mudah diperoleh dari petani. Gaplek kerap disukai oleh pemilik usaha kuliner menjadi gatot yang direbus dan diberi parutan kelapa. Produk lain beras tiwul digunakan sebagai makanan pengganti dan campuran beras padi dan jagung.

Selama kemarau pembuatan gaplek dan beras tiwul mudah dilakukan terbantu cuaca panas maksimal.

“Pengeringan lebih cepat dilakukan sehingga dalam waktu dua hari gaplek dan beras tiwul sudah bisa disimpan,” ungkap Sumirah.

Pada musim kemarau ia mengaku harga singkong naik dari semula Rp500 menjadi Rp1.000. Meski demikian harga jual gaplek dan tiwul masih bertahan Rp10.000 untuk gaplek dan Rp12.000 untuk beras tiwul. Sekali produksi ia bisa mendapatkan 200 kilogram beras tiwul dan 200 kilogram gaplek.

Lihat juga...