hut

Heesu: Cerebral Palsy Bukan Kecacatan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

JAKARTA — Cerebral Palsy tidak dapat dinyatakan sebagai suatu kecacatan. Karena, pada dasarnya, anak dengan kondisi ini hanya membutuhkan waktu yang lebih lama dalam belajar dan melakukan aktivitas. Dengan terapi yang tepat,  terutama skala ringan, akan mampu mengikuti pelajaran di sekolah umum.

Pendamping Cerebral Palsy Yayasan Heesu Cahaya Cinta (Heesu) Iwan Safir Alam. Foto: Ranny Supusepa

“Karena anak dengan Cerebral Palsy ini bisa melakukan gerakan, hanya membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan anak yang lain,” kata Pendamping Cerebral Palsy Yayasan Heesu Cahaya Cinta (Heesu) Iwan Safir Alam saat peringatan Hari Cerebral Palsy Sedunia di Terowongan Kendal Jakarta, Minggu (6/10/2019).

Ia menjelaskan bahwa kondisi ini disebabkan adanya kelumpuhan pada bagian cerebrum yang menyebabkan gangguan pada gerakan dan koordinasi tubuh.

“Umumnya memiliki tingkat intelegensia bergantung pada tingkatan serangannya. Jika yang ringan, maka relatif tidak terlihat dan bisa bersekolah seperti anak umumnya,” ucap Iwan.

Untuk yang memiliki serangan berat, biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya.

“Dari segi sosialisasi, anak Cerebral Palsy sama saja dengan anak pada umumnya. Hanya mereka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk melakukan suatu kegiatan atau belajar,” urai Iwan usai menemani tiga anak asuhnya menyanyikan Laskar Pelangi dan Semua Karena Cinta di depan para pengunjung.

Fokus yang diberikan di Heesu adalah pendidikan khusus, yaitu vokasional, pra-vokasional, bina diri dan sensori.

“Kami juga memberikan fisioterapi, terapi wicara dan terapi okupasi,” kata Iwan.

Fisioterapi bertujuan untuk membantu anak dalam kemampuan gerak dan kemampuan otot serta mencegah kontraktur atau pemendekan otot yang menyebabkan gerakan anak menjadi terbatas.

Terapi Wicara diperuntukkan bagi yang mengalami kesulitan bicara. Terapi Okupasi adalah untuk mengatasi kesulitan dalam beraktivitas.

“Terapi ini sangat membantu dalam meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian anak,” tutur Iwan.

Iwan menyebutkan bahwa Heesu didirikan tahun 2008 oleh seorang Korea, yang sekarang sudah kembali ke negaranya sejak tahun 2013. Saat ini Heesu dibiayai melalui program CSR PT IDX Samudera Karunia, yang merupakan sebuah perusahaan Korea.

“Saat ini, kami mengasuh 15 anak yang memiliki Cerebral Palsy dan Cerebral Palsy plus Autis. Range usianya dari 11 tahun hingga 26 tahun,” papar Iwan.

Ia menuturkan anak bimbingannya ini tidak sejak bayi dirawat oleh mereka. Tapi ada yang baru masuk pada umur 4 tahun dan ada yang sudah menginjak belasan tahun.

“Sejak awal, pendiri yayasan memang berfokus pada keluarga yang tidak mampu secara ekonomi untuk melakukan pengasuhan dan pendidikan pada anak yang mengalami Cerebral Palsy,” ujarnya lebih lanjut.

Hingga saat ini, Iwan menyampaikan, baru satu anak yang sudah mandiri dan dua anak yang hanya membutuhkan bantuan ringan.

Lihat juga...