hut

Iwapi Lamsel Dorong IRT Menjadi Pengusaha

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Lampung Selatan (Lamsel) mendorong wanita menjadi pengusaha.

Gustina Idawati, ketua Iwapi Lamsel menyebut peranan wanita dalam peningkatan kesejahteraan keluarga sangat penting. Sebagian wanita yang telah menjadi ibu rumah tangga (IRT) dengan kesibukan mengurus suami, anak tidak menghalangi untuk berwirausaha.

Sejumlah usaha yang bisa dikerjakan di rumah tanpa mengganggu aktivitas menjadi pilihan. Iwapi Lamsel disebut Gustina Idawati gencar melakukan pelatihan di sejumlah kecamatan bagi sejumlah kelompok wanita.

Kelompok wanita di pedesaan menurutnya dilatih bekerjasama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Lamsel.

Sejumlah pelatihan yang digelar menyesuaikan potensi sumber daya alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM). Bagi sejumlah wanita yang tinggal di wilayah tepi pantai dengan potensi perikanan, hasil laut, pelatihan dilakukan dengan membuat produk makanan olahan laut.

Selain olahan makanan, kerajinan dari kulit kerang yang sudah tidak terpakai dibuat menjadi sejumlah kerajinan menarik bernilai jual.

“Bagi wanita yang tinggal pada wilayah berbasis pertanian dan perkebunan Iwapi melakukan pelatihan membuat produk olahan hasil pertanian serta kerajinan tangan salah satunya sulam usus,” ungkap Gustina Idawati saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (1/10/2019).

Dukungan dan fasilitas yang diberikan oleh Iwapi Lamsel menurut Gustina Idawati mendorong para wanita kreatif dan mandiri. Berbagai ide dan potensi yang selama ini sudah dimiliki oleh sejumlah wanita kerap kurang mendapat dukungan.

Dukungan tersebut meliputi pelatihan, sarana, permodalan hingga pemasaran produk. Keberadaan Iwapi Lamsel menurutnya memiliki misi untuk memberdayakan kaum wanita agar bisa membantu keluarga.

Kepada sejumlah kelompok wanita yang pernah dilatih, Iwapi Lamsel disebut Gustina Idawati ikut meningkatkan kualitas SDM. Peningkatan kualitas SDM diantaranya menyesuaikan perkembangan zaman dengan sarana, prasarana berbasis teknologi.

Sebagai contoh sejumlah peralatan pembuatan makanan tradisional yang semula hanya sederhana mulai mengalami kemajuan.

“Selain peralatan produksi, sistem jual beli saat ini mulai bergeser dari pertemuan pembeli dan penjual langsung ke dunia digital melalui e-commerce,” tuturnya.

Pembekalan SDM diakuinya bekerjasama dengan sejumlah instansi. Bagi sejumlah wanita yang tinggal di sekitar pantai Iwapi berkoordinasi dengan Dinas Perikanan. Selain bekerjasama dengan sejumlah instansi, Iwapi Lamsel ikut membantu para wanita untuk mempromosikan produk terutama Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Kepada instansi terkait hingga ke tingkat pedesaan, fasilitas pendanaan diberikan melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

Melalui berbagai pelatihan, Gustina Idawati menyebut para wanita dibekali dengan perkembangan teknologi digital. Sebab pemberdayaan kaum wanita berbasis teknologi digital membuat pemasaran produk UMKM bisa menjangkau wilayah lain.

Selain praktik pembuatan produk, Iwapi Lamsel juga mendorong para wanita memanfaatkan media sosial untuk hal yang bijak. Sebab media sosial bisa menjadi platform jual beli untuk sebanyak mungkin menjangkau konsumen.

“Iwapi Lamsel mendorong wanita yang sudah dilatih membuat produk bisa melakukan pemasaran berbasis offline maupun online demi peningkatan pendapatan,” tutur Gustina Idawati.

Pemberdayaan wanita berbasis keluarga disebut Gustina Idawati dilakukan untuk menyeimbangkan fungsi ibu rumah tangga dan wanita pengusaha. Sejumlah kelompok wanita menurut Gustina Idawati didorong tetap ikut memperhatikan kesejahteraan keluarga.

Sebab peran sebagai IRT sangat penting dalam mendidik anak. Menjadi wanita wirausaha menurutnya menjadi peluang untuk menabung demi pemenuhan kebutuhan keluarga.

Pelatihan sulam usus bagi kelompok wanita disebut Gustina Idawati digelar pada dua kecamatan di Lamsel. Desa Sukaraja Kecamatan Palas dan Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan dipilih untuk pelatihan.

Pemilihan pelatihan sulam usus disebutnya sangat tepat karena seni kerajinan sulam yang ada sejak dulu dalam masyarakat Lampung mulai ditinggalkan.

“Sulam usus yang diaplikasikan dalam sejumlah penutup kepala wanita kerap dipakai saat pernikahan dan upacara adat, namun kini bisa dipakai pada acara umum,” ungkap Gustina Idawati.

Proses pembuatan sulam usus yang merupakan bagian dari nilai luhur kearifan suku Lampung disebutnya harus dilestarikan. Proses pembuatan sulam usus yang sulit, memakan waktu lama karena dikerjakan dengan sistem buatan tangan (handmade).

Sebagai usaha rumahan, sulam usus dilatihkan kepada kelompok wanita Mawar di Desa Pasuruan. Hasil karya yang indah dan butuh proses lama dalam wujud baju gamis, kebaya dan pakaian lain bisa bernilai Rp1,5 juta lebih.

Mimin, salah satu IRT asal Desa Pasuruan menyebut selama ini ia menekuni usaha pembuatan kue kering. Namun usaha tersebut dominan mendapat banyak pesanan saat musim hajatan dan jelang hari raya. Sebagai IRT yang selalu di rumah, pemanfaatan waktu luang sangat penting.

Mimin, salah satu ibu rumah tangga menjahit kain untuk pola sulam usus yang dilatih oleh Disnakertrans Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (1/10/2019) – Foto: Henk Widi

Pelatihan sulam usus oleh Iwapi Lamsel disebutnya menjadi cara ia memanfaatkan waktu agar bermanfaat.

“Potensi waktu luang dan kemauan bisa menjadi sumber penghasilan salah satunya dengan membuat sulam usus,” tutur Mimin.

Hal yang sama diungkapkan Rosiyam, salah satu IRT yang suaminya bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Pelatihan sulam usus disebutnya mendorong ia bisa memiliki jiwa wirausaha. Sebab sebagai anggota Kelompok Mawar ia bisa mendapatkan ilmu terkait wirausaha dari Iwapi Lamsel difasilitasi Desa Pasuruan dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Lamsel.

Sulam usus yang bernilai seni diakuinya bisa dimanfaatkan untuk dipakai sendiri sehingga bisa menghemat pengeluaran dan dijual menambah penghasilan.

Selain mendapat ilmu dari pelatihan,anggota kelompok wanita disebutnya mendapat bantuan peralatan. Bantuan peralatan berupa mesin jahit dan paket pelatihan menjadi modal awal.

Saat usaha pembuatan sulam usus berjalan, Rosiyam mengaku kelompok bisa mengajukan modal pinjaman lunak melalui Bumdes. Sebab permodalan dari Bumdes bisa dimanfaatkan untuk pengembangan usaha dan pembelian sejumlah peralatan.

Lihat juga...