Jumat Pagi, Udara Jakarta Peringkat Keempat Terburuk di Dunia

Arsip-Gedung bertingkat tersamar kabut polusi udara di Jakarta, Senin (8/7/2019). Berdasarkan data "Air Quality Index" pada Senin (8/7/2019) tingkat polusi udara di Jakarta berada pada angka 154 yang menunjukkan bahwa kualitas udara di ibu kota termasuk kategori tidak sehat. -Foto: Antara

JAKARTA – DKI Jakarta, menempati peringkat keempat, sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, Jumat (11/10/2019) pagi. Peringakat ini turun satu level dari hari sebelumnya.

Berdasarkan data laman AirVisual.com, pada pukul 05.27 WIB Jumat (11/10/2019), kualitas udara Jakarta mencapai angka 168 berdasarkan AQI atau indeks kualitas udara dengan status udara tidak sehat. Peringkat tersebut setara dengan nilai polutan sebesar 87,9 µg/m³ dengan perimeter PM 2.5. Kualitas udara terburuk pertama ditempati oleh Kota Lahore di Pakistan dengan nilai cukup tinggi yakni 203 atau sangat tidak sehat berdasarkan AQI, angka ini setara dengan PM2.5 sebesar 152,5 µg/m³.

Pada posisi kedua ditempati oleh Kota Delhi di India dengan status udara tidak sehat dengan indeks 181 berdasarkan AQI atau setara dengan PM2.5 sebesar 113,5 µg/m³. Di posisi ketiga Kota Dubai di Uni Emirat Arab, yang memiliki kualitas udara terburuk di dunia dengan AQI sebesar 176 atau setara PM2.5 sebesar 104,4 µg/m³.

Dan di posisi kelima ada Beijing, Cina memiliki kualitas udara terburuk di dunia dengan AQI setingkat di bawah Malaysia yakni sebesar 159 atau setara PM2.5 sebesar 73 µg/m³. Kelima negara tersebut memiliki status udara tidak sehat dan masyarakat lebih disarankan untuk beraktivitas di dalam ruangan. Jika masyarakat ingin beraktivitas di luar ruangan, pemakaian masker dianjurkan agar tidak terpapar partikel halus udara yang berbahaya bagi kesehatan saluran pernafasan.

Sejak Agustus 2019, masyarakat Jakarta harus menghirup udara dengan kualitas udara yang buruk berdasarkan laporan kualitas udara di situs AirVisual.com. Kualitas buruk ini berakhir di meja hijau oleh kelompok masyarakat bernama Ibu Kota yang menggugat tujuh jabatan penting di Indonesia, dua di antaranya adalah Presiden Republik Indonesia dan Gubernur Provinsi DKI Jakarta. (Ant)

Lihat juga...