hut

Karena Keterbatasan, Kondisi SLB C Bundaku di Bekasi Memprihatinkan

Editor: Mahadeva

BEKASI – Berbagai dilakukan Yayasan Handani, untuk dapat memperbaiki kondisi Sekolah Luar Biasa (SLB) tipe C Pariwisata Bundaku, yang ada di komplek Taman Wisma Asri Bekasi Utara, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Berbagai upaya dilakukan, untuk bisa mendapatkan donatur dengan menyebar puluhan proposal. Namun, tetapi hasilnya nol karena belum ada hasil positif. Meski telah beroperasi puluhan tahun, sejak 2008, SLB C Pariwisata Bundaku, masih belajar di rumah kontrakan dengan kondisi seadanya. Sekolah tersebut berada di Jalan Anggur Blok D Taman Asri.

Bangunan yang digunakan cukup memprihatinkan, setelah beberapa waktu lalu ada bagian bangunan yang runtuh akibat di makan usia. “Alhamdulillah, sudah ada respon dari RT dan RW, kelurahan Teluk Pucung, serta pihak Kecamatan Bekasi Utara. Solusinya SLB C Bundaku sementara diperbolehkan mempergunakan fasilitas umum (Fasos) milik RW012,”kata Anggraeni Puspa Sari, Kepala Sekolah sekaligus pemilik yayasan, kepada Cendana News, Kamis (10/10/2019).

Murid SLB C Pariwisata Bundaku, yang belajar dengan keterbatasan fasilitas tempat belajar, Kamis (10/10/2019) – Foto M Amin

Reni sapaan akrab sang kepala sekolah mengaku, akan segera mengurus surat izin penggunaan fasos RW 012. Setelah itu, akan mengurus perizinan SLB tipe C ke dinas dan perizinan lainnya. SLB C Pariwisata Bundaku belum mendapat izin operasional dari Dinas Pendidikan Kota Bekasi, meski sudah puluhan tahun beroperasi.

Hal itu menjadi kendala pemerintah untuk membantu sekolah tersebut. “Banyak syaratnya salah satunya harus punya lahan dan gedung sendiri, dengan minimal luas lahan 1.000 meter persegi. Dari mana saya memiliki lahan seluas itu, sekarang aja ngontrak,” ujar Reni.

Di awal 2008, SLB Pariwisata Bundaku merupakan sekolah TK biasa. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak anak berkebutuhan khusus yang masuk. Karena kekurangan siswa, akhirnya anak-anak berkebutuhan khusus diterima hingga, dan akhirnya kegiatan difokuskan dan  dikhususkan untuk anak berkebutuhan khusus saja.

Untuk operasional Reni, memasang tarif SD Rp350 ribu, sedangkan untuk jenjang SMP dan SMA Rp500 ribu. Untuk jenjang SMA, banyak praktek seperti memasak. Sedangkan tenaga pengajar hanya dua orang dan pengelolaan dibantu satu orang administrasi. “Jumlah murid sekarang hamya 15 anak berkebutuan khusus. Dua tenaga pengajar, satu orang ada yang pegang tujuh dan ada yang delapan. Semua campur. Gaji guru dihitung dari jumlah murid yang dipegang, dengan Rp200 ribu per-murid,” jelasnya.

Reni (paling kanan jilbab) pemilik Yayasan juga sebagai Kepala Sekolah SLB C Pariwisata Bundaku – Foto M Amin

Namun, dalam perjalanannya ada orang tua siswa yang tidak mampu dan membayar. “Hal itu tidak menjadi masalah, nanti dibuat sistem silang ke gurunya, agar tidak ada perbedaan dalam mendidik muridnya dengan cara diratakan semua Rp200 ribu,” tandasnya.

Kondisi peserta didik di SLB C Bundaku datang dari berbagai keistimewaan, seperti mengidap down syndrome, cerebral palsy, maupun keterbelakangan mental. “Pihak Dinas Pendidikan, kelurahan dan Kecamatan sudah berjanji untuk membantu dari sisi perizinan. Tapi untuk dana bantuannya datang dari Pemerintah Provinsi,”paparnya.

Diharapkan, ada solusi jangka panjang, sehingga SLB C Pariwisata Bundaku, bisa terus memberikan yang terbaik bagi anak berkebutuhan khusus di Kota Bekasi.

Lihat juga...