hut

Kebakaran Lahan di Pegunungan Bisa Sebabkan Angin Kencang

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Angin kencang yang melanda Kota Batu pada Sabtu hingga Minggu (19-20/10/2019), menurut Kasubbid Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terjadi akibat adanya kebakaran lahan di daerah pegunungan sekitar lokasi tersebut.

“Kebakaran lahan di daerah pegunungan, memicu sirkulasi lokal pegunungan yang memainkan peran cukup signifikan sebagai respons atas peningkatan kecepatan angin di lapisan atas,” kata Siswanto, saat dihubungi, Selasa (22/10/2019).

Menurutnya, pada lokasi tertentu di pegunungan, angin lapisan troposfer bawah yang kuat bisa menguatkan respons sirkulasi lokal berupa angin lembah dan angin gunung.

“Angin lembah biasanya terjadi siang hari saat bagian dengan dataran yang lebih luas dan lebih rendah telah mendapat pemanasan matahari yang cukup. Sebaliknya, angin gunung yang menuruni lembah pada waktu malam hari,” urai Siswanto.

Kebakaran cukup luas di bagian yang lebih tinggi di Gunung Arjuna, dapat memicu aliran angin lembah, yaitu angin mengalir dari lembah ke arah gunung, yang lebih kuat dari biasanya. Sehingga membawa debu pasir terangkat ke bagian atas.

“Dalam hal kejadian di Batu Malang, angin berhembus cukup kencang secara lokal, lebih kencang di malam hari, ada dugaan kebakaran hutan lahan di bagian gunung yang lebih tinggi turut andil memicu kejadian bencana lokal angin kencang ini,” ujar Siswanto.

Hal ini dapat diterangkan dalam hubungan tekanan rendah dan suhu udara permukaan yang tinggi, sebagaimana di atas.

“Suhu yang lebih panas akibat kebakaran terjadi dalam waktu yang cukup lama, akan mampu menurunkan tekanan udara permukaan, sehingga udara mengalir ke wilayah dengan suhu lebih panas tersebut,” papar Siswanto, lebih lanjut.

Di areal pegunungan, secara umum wilayah Batu yang merupakan dataran tinggi ke arah Mojokerto yang merupakan dataran rendah, suhu udara permukaan biasanya lebih dingin di wilayah Batu, sehingga sirkulasi udara lokal cenderung bergerak turun (angin gunung).

“Tetapi pada saat kondisi di tempat lebih panas di bagian atas, maka sirkulasi lokal itu dapat berbalik sehingga menyebabkan angin lembah (dari atas ke bawah) menjadi lebih kuat dari biasanya,” ucapnya.

Pada topografi tertentu, oleh pengaruh bentuk lereng dan permukaan pegunungan, angin lembah itu dapat membentuk pusaran angin pada area dan skala yang lebih kecil. Hal ini juga terjadi di lereng Merapi,  di mana terjadi peningkatan suhu permukaan akibat aktivitas erupsi dan awan panas di bagian atas pegunungan.

“Dengan kondisi dan kecepatan angin seperti ini, angin dapat menerbangkan material ringan, bila melintasi daerah berpasir atau tanah kering,” pungkasnya.

Lihat juga...