hut

Kekeringan, Petani di Cibarusah Beralih Jadi Kuli

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Kemarau panjang melanda di wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat berdampak kepada kalangan petani di tiga desa kecamatan Cibarusah. Ketiga desa itu yakni Desa Ridogalih, Ridomanah, dan Desa Sirnajati.

Akibat kekeringan tersebut, cukup dirasakan oleh petani, memaksa mereka pasrah hidup seadanya tanpa penghasilan, jadi pengangguran atau bekerja serabutan sebagai kuli bangunan dampak dari kekeringan di wilayah setempat yang berlangsung sudah lima bulanan lebih.

“Kami selama ini mengandalkan penghasilan dari bertani padi. Sekarang sudah lima bulan sawah kering, bukan susah lagi ini sudah menderita,”ujar Pak Ujud, salah seorang petani, ditemui di areal sawah Desa Ridomanah, Cibarusah, Senin (7/10/2019).

Ujud, berkisah petani di Cibarusah selama musim kemarau banyak yang beralih profesi sebagai kuli bangunan atau memilih menganggur. Pilihannya hidup seadaanya dari mulai makan dan lainnya. Namun demikian dia mengatakan rejeki tetap ada saja meski tidak seperti biasa.

Pak Ujud dan satu petani lainnya Pak Arya, masih diuntungkan, meski kekeringan mereka beralih dengan budidaya palawija di atas lahan sawah yang kekeringan dengan menanam timun dan cabai.

“Ini terbilang petani rugi Mas, kenapa kerjanya dua kali lipat karena harus menyiram secara manual dan mengangkut air seadanya dari mata air Cipamingkis yang sedikit itu, tapi bagaimana lagi bisanya hanya bertani,” ujar Arya kepada Cendana News.

Arya mengisahkan bagaimana merawat tanaman di tengah musim kemarau, dari mengumpulkan air dengan memikul dari sumber mata air dan disiramkan secara manual menggunakan dua kaleng yang sudah dimodifikasi secara berkeliling ke tanamannya.

“Alhamdulillah, panennya ada saja meski tidak maksimal. Timun kan dua hari sekali panen, harganya masih bagus Rp6500/kilo. Biasanya cuma Rp1000/kilo kalau lagi anjlok,” tutur Arya.

Diakuinya bahwa di wilayah Cibarusah setiap tahun lahan sawah memang terjadi kekeringan dan petani sudah menyiasati hal itu. Tapi imbuhnya tahun ini cukup lama tidak turun hujan. Kekeringan sudah terjadi awal memasuki bulan puasa tahun 2019 karena tidak pernah turun hujan.

Areal persawahan di wilayah Cibarusah mengandalkan saluran air dari Kali Cipamungkis yang ditampung kemudian dialirkan melalui saluran irigasi. Tapi kondisi Kali Cipamingkis sendiri yang hulunya berada di Bogor mengalami kekeringan tidak ada air mengalir.

Kekeringan di Sungai Cipamingkis, terlihat dimanfaatkan warga mengangkut pasir kali untuk dijual menambah penghasilan selama musim kekeringan, Senin (7/10/2019). Foto: Muhammad Amin

Diakui Arya, tidak ada sumur bor, di areal sawah wilayah Cibarusah. Sehingga jika musim kemarau petani akan menganggur atau beralih profesi menjadi kuli bangunan, membuat genteng atau batu bata.

Syarifuddin, petani lainnya, mengaku akibat kekeringan melanda wilayahnya jangankan untuk bersawah untuk kepeluan mandi, mencuci dan lainnya susah. Dia mengaku terkadang hanya mandi sekali itu pun menggunakan air seadanya yang diambil dari mata air di wilay kampung Petempuran.

“Jauh sumber airnya, harus menggunakan jeriken mengambil air untuk keperluan mencuci mandi. Tapi untuk masak dan minum mengandalkan air isi ulang,” paparnya.

Lihat juga...