hut

Kelola LTJ, Batan Gandeng PT Timah

Editor: Mahadeva

Kepala Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Ir. Yarianto Sugeng Budi Susilo, M.Si (batik kuning) saat ditemui di Ruang Muda Batan PAIR Jakarta, Rabu (16/10/2016) – Foto Ranny Supusepa

JAKARTA – Logam Tanah Jarang (LTJ) atau rare earth material, adalah bahan yang paling penting di masa kecanggihan teknologi seperti sekarang.

Salah satu yang paling dicari adalah Neodymium, unsur yang memiliki peran dalam pengembangan baterai untuk alat transportasi berbasis listrik. Unsur lainnya adalah, Samarium, Europium, Gadolinium dan Lantanum. Saat ini, potensi LTJ yang ada di Indonesia belum dikelola dalam skala besar. Baru dalam tahap kepentingan penelitian.

Kepala Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Ir. Yarianto Sugeng Budi Susilo, M.Si, menyatakan, Batan sudah sejak lama mengeksplorasi bahan LTJ. “Eksplorasinya memang ditujukan untuk mencari bahan radioaktif, Uranium dan Thorium. Saat pemisahan, LTJ menjadi produk sampingan,” kata Yarianto saat ditemui Cendana News di Ruang Muda Batan PAIR Jakarta, Rabu (16/10/2019).

Salah satu sumber LTJ yang sudah diolah oleh Batan adalah produk sampingan dari penambangan Nikel yaitu Pasir Monasit. “Tapi memang, skalanya belum untuk industri. Hanya untuk keperluan penelitian dan kepentingan bahan bakar nuklir di Batan saja,” lanjutnya.

Direktur Pengembangan Usaha PT Timah Trenggono Sutioso (batik hitam)  saat ditemui di Ruang Serba Guna  Batan Pair Jakarta, Rabu (16/10/2016) – Foto Ranny Supusepa

Pemisahan pasir monasit, dilakukan di Batan Pair menggunakan instalasi PLUTO. Dan pengolahan selanjutnya dilakukan di Batan Yogyakarta. Ke depannya, Batan akan menggandeng PT Timah untuk melakukan pengolahan LTJ di area Bangka Belitung.

Hal itu, sebagai upaya untuk meningkatkan skala produksi LTJ.  “Kita memang sedang menunggu revisi batas minimum ekspor LTJ. Kalau sudah, kita akan segera melakukan konstruksi,” kata Direktur Pengembangan Usaha PT Timah, Trenggono Sutioso.

Di tahap awal, pilot plan ini adalah untuk menghasilkan RE Oksida, atau rare earth hidroksida sebelum masuk ke RE Oksida di 2020. “Tapi tidak menutup kemungkinan kalau kedepannya kita akan melakukan pengembangan hingga individual oksida,” tuturnya.

Terkait pengembangan tersebut, Trenggono menyebut, akan disesuaikan dengan kebutuhan dari pasar.

Lihat juga...