hut

Kemarau, Petani Pilih Tanam Hortikultura

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Berkurangnya pasokan air kala kemarau disiasati petani di Lampung Selatan dengan menanam hortikultura.

Wiyono, petani di Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, memilih menanam sayur dan jagung manis, sebagai pengganti padi. Menanam hortikultura dilakukan, agar lahan tetap produktif meski kondisinya kekurangan air. Komoditas yang ditanam jagung manis, kacang panjang, kemangi, sawi, kacang kedelai dan kacang hijau. Air didapatkan dengan membendung aliran sungai Pergiwo yang saat ini dalam kondisi kering.

Sungai dengan panjang puluhan kilometer tersebut, saat ini masih bisa bertahan karena keberadaan sejumlah sumber mata air di wilayah tersebut. “Debit air sungai Pergiwo mengecil meski tetap mengalir dimanfaatkan warga dengan proses membendung untuk proses penyiraman tanaman hortikultura,” ungkap Wiyono kepada Cendana News, Selasa (29/10/2019).

Wiyono,petani di Desa Gandri Kecamatan Penengahan Lampung Selatan menyiangi gulma rumput pada tanaman jagung manis miliknya, Selasa (29/10/2019) – Foto Henk Widi

Lahan satu hektare milik Wiyono cocok ditanami jagung manis saat musim kemarau. Jagung manis dipanen di usia 75 hari. Selain jagung, setelah panen daun jagung dan kelobot bisa dijual sebagai sumber pakan ternak.

Menanam jagung manis 10 kilogram atau dua kampil, Wiyono bisa mendapatkan panen enam kuintal. Harga jual jagung manis Rp5.000 berisi dua hingga tiga tongkol. Menghasilkan sekira 600 kilogram jagung manis sekali panen, Wiyono bisa mendapat penghasilan Rp3 juta sekali panen.

Selain jagung manis, Wiyono juga menanam kacang tunggak. Jenis kacang yang tahan cuaca panas tersebut, bisa dipanen di usia 60 hari. Kacang tunggak ditanam di tanggul sawah. Sekali panen Dia memperoleh 100 kilogram kacang, yang dipakai untuk bahan pembuatan menu kuliner peyek dan bothok.

Surti sang istri menyebut, kemarau tidak menghalangi pemanfaatan sawah. “Kacang panjang, gambas merupakan jenis sayur yang bisa dipetik buahnya bertahap, selama pohon produktif masih bisa dipanen,” tutur Surti. Tanaman sayur tersebut tidak membutuhkan air banyak. Penyiraman dilakukan dengan memompa air dari sungai pada pagi dan sore hari. Selama mendapatkan penyiraman, sayur mayur tersebut masih bisa produktif meski kemarau.

Lihat juga...