hut

Kemenkes Wacanakan Ganti Nama RSJ

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Stigma negatif pada layanan kesehatan jiwa, yaitu Rumah Sakit Jiwa (RSJ), membuat banyak orang yang mengalami gangguan jiwa ringan tidak mau datang untuk berobat. Kondisi ini berbuntut pada meningkatnya gangguan jiwa ke level yang lebih tinggi. 

Data Riskesdas 2018, menunjukkan peningkatan data gangguan jiwa emosional menjadi 9,8 persen dari total penduduk Indonesia yang berusia di atas 15 tahun, dibandingkan data 2013, yang hanya menunjukkan angka enam persen.

Peningkatan ini ditenggarai karena masyarakat yang mengalami gangguan mental skala ringan, enggan untuk berobat ke layanan kesehatan jiwa karena adanya stigma negatif dari masyarakat.

Karena itu, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, dr. Anung Sugihantono, M.Kes., menyampaikan wacana untuk mengganti nama RSJ dengan Rumah Sakit Kesehatan Mental.

“Coba bayangkan kalau orang mau berobat ke psikologi di RSJ, stigmanya kan negatif. Akhirnya orang tidak mau berobat,” kata Anung, usai Temu Media di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan Jakarta, Senin (7/10/2019).

Harapannya, langkah ini dapat memutus stigma negatif yang selalu muncul di masyarakat, terkait orang yang datang ke RSJ. “Stigma itu ada karena kita juga yang membuat. Kalau memang tidak sesuai, ya tinggal ganti undang-undangnya,” kata Anung.

Untuk mengatasi masalah gangguan mental ini,  Anung menyebutkan butuh sinergitas dari seluruh pihak. Baik dari pemerintah daerah dan masyarakat.

“Kami dari pemerintah pusat hanya bisa mengimbau untuk bisa hidup berdampingan. Untuk pengaplikasian dan mendorong seorang yang memiliki gangguan mental untuk menjadi produktif secara ekonomi dan sosial, ya pemerintah daerah dan masyarakat,” pungkasnya.

Lihat juga...