hut

Kerang Cobo-Cobo, Alternatif Bahan Kuliner Air Payau Way Sekampung

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kemarau menjadi berkah bagi warga di Daerah Aliran Sungai (DAS) Way Sekampung. Sungai batas alam Kabupaten Lampung Timur (Lamtim) dan Lampung Selatan (Lamsel) menjadi habitat kerang cobo-cobo.

Widiansah menyebut kerang cobo-cobo merupakan jenis kerang yang hidup pada lingkungan air payau. Jenis kerang seperti kerang hijau di laut tersebut berkembang melimpah saat kemarau.

Kerang air payau atau dikenal cobo-cobo hidup pada akar,batang tanaman kayu dikumpulkan oleh Widiansah, warga Dusun Pematang Gadung Desa Labuhan Ratu Kecamatan Pasir Sakti Lampung Timur untuk dijual, Sabtu (19/10/2019) – Foto: Henk Widi

Perkembangan melimpah kerang cobo-cobo disebutnya didukung oleh air payau yang melimpah. Sebab sungai Way Sekampung yang dekat dengan muara mendorong air laut saat pasang terjadi. Sementara kurangnya curah hujan membuat kadar air tawar menyusut.

Warga Dusun Pematang Gadung, Desa Labuhan Ratu, Kecamatan Pasir Sakti Lamtim itu mengaku alternatif kuliner bisa dibuat dari kerang cobo-cobo.

Kala kemarau sejumlah warga sengaja berburu kerang tersebut yang mudah diperoleh. Pencari kerang menurutnya bisa menyusuri tepi sungai dan mencari akar pandan sungai, pohon waru, gelagah dan pohon lokasi habitat kerang cobo-cobo. Bentuk seperti kijing dan kerang hijau mudah dikenali karena hidup bergerombol menempel pada batang dan akar tanaman di sungai Way Sekampung.

“Pencari kerang cobo-cobo tidak harus menyelam ke dasar sungai karena dari tepian bisa diperoleh kerang tersebut meski harus teliti, kerang dilepaskan dari akar atau batang tanaman lalu dikumpulkan sebelum direbus,” ungkap Widiansah, saat ditemui Cendana News tengah mencari kerang cobo-cobo di sungai Way Sekampung, Sabtu (19/10/2019).

Laki-laki yang sedang menunggu tambak udang putih (vaname) itu mengaku memanfaatkan waktu luang mencari kerang cobo-cobo. Saat akhir pekan ia memastikan selain dirinya banyak warga yang berburu bahan kuliner yang tidak dibudidayakan tersebut.

Saat sungai Way Sekampung surut dan DAS dalam kondisi kering pencarian kerang cobo-cobo lebih mudah. Sebagian pencari kerang itu memilih berburu untuk dijual ke pengepul.

Pencarian kerang cobo-cobo disebutnya jadi bahan alternatif pangan. Saat membutuhkan lauk untuk makan nasi ia mencari kerang itu. Cukup dengan proses perebusan, memakai bumbu bawang merah, bawang putih dan garam ia mengonsumsi kerang cobo-cobo saat menunggu tambak.

Sebagian kerang cobo-cobo dijual ke pengepul dengan harga Rp3.000 per kilogram dalam kondisi bercangkang. Dalam kondisi dikupas harga kerang itu mencapai Rp8.000.

Sekali proses mencari ia menyebut bisa memperoleh sekitar 200 kilogram kerang cobo-cobo. Pengepul kerap memilih ukuran kerang yang besar untuk mendapatkan daging kerang yang tebal. Proses pemilihan lokasi mencari kerang membuat ia bisa mendapatkan kerang berukuran besar.

Ia bahkan memakai perahu agar bisa menjangkau lokasi habitat kerang cobo-cobo.

“Perahu bisa menjangkau rerimbunan pohon rumbia yang menjadi tempat menempel kerang cobo-cobo ukuran besar,” tuturnya.

Mendapatkan sekitar 200 kilogram dengan harga jual Rp3.000 ia bisa memperoleh hasil Rp600.000. Sebagian kerang diolah menjadi kuliner dengan hanya direbus dan disantap memakai sambal kecap.

Kandungan gizi kerang cobo-cobo disebutnya cukup tinggi mengandung omega tiga dan protein. Habitat air sungai Way Sekampung yang payau disebutnya membuat kualitas kerang cobo-cobo cukup bersih tanpa khawatir terkontaminasi zat berbahaya.

Kerang cobo-cobo disebut Widiansah cukup unik karena banyak ditemukan saat kemarau. Kerang yang hidup subur dengan kadar air tawar dan air laut cukup itu bahkan jarang ditemui saat musim penghujan.

Jika ada ia memastikan jumlahnya tidak semelimpah saat musim kemarau. Pada kondisi kemarau ia menyebut sepanjang 10 kilometer tepian sungai Way Sekampung mudah dijumpai kerang cobo-cobo tersebut.

“Kerang cobo-cobo jadi berkah bahan makanan karena kemarau tambak udang dan ikan kering, lahan pertanian kering,” tuturnya.

Sejumlah pekerja tambak yang kering sebagian beralih mencari kerang cobo-cobo. Kerang yang dijual umumnya dalam kondisi masih belum dikupas karena masih bisa bertahan dengan diberi air selama dua hari.

Bahan makanan yang mudah dicari dan tanpa harus mengeluarkan biaya mahal membuat kerang cobo-cobo alternatif bagi warga di sekitar DAS Way Sekampung.

Suwarti, warga Desa Labuhan Ratu, Lamtim menyebut ia kerap mengolah kerang cobo-cobo dengan cara ditumis. Sang suami bernama Hendro kerap mencari kerang cobo-cobo sembari memancing.

Suwarti, membuat bumbu untuk mengolah kerang cobo-cobo menjadi kuliner alternatif saat musim kemarau di wilayah Lampung Timur, Sabtu (19/10/2019) – Foto: Henk Widi

Kerang jenis tersebut mudah diolah setelah daging dipisahkan dari cangkang. Daging kerang yang dipisahkan setelah proses perebusan bisa menjadi bahan olahan kuliner tumis kerang dengan bumbu saus tiram.

“Varian olahan kerang cobo-cobo biasanya direbus dengan garam dan cabai dan dimakan dengan dicungkil dan disantap memakai saos tomat,” tuturnya.

Mengandung gizi yang cukup baik, Suwarti menyebut kemarau menjadi berkah baginya. Sebab kerang cobo-cobo mudah diperoleh tanpa harus membeli. Sebagian kerang yang dijual di pasar disebutnya kerap dibeli oleh warga yang tinggal jauh dari sungai Way Sekampung.

Selain bisa diolah menjadi tumis kerang, kulit kerang cobo-cobo menurutnya bisa diolah menjadi berbagai jenis kuliner sesuai selera.

Lihat juga...