Kesenjangan Antara Potensi-Realisasi Keuangan Syariah Masih Besar

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Pakar ekonomi syariah, Irfan Syauki Beik, menilai kondisi keuangan syariah di Indonesia, saat ini antara potensi dengan realisasinya masih diwarnai kesenjangan yang sangat besar. 

“Kita secara data market share baru 6 persen di perbankan syariah. Dengan industri lain, total keuangan syariah kita itu 8 persen,” kata Irfan, kepada Cendana News, saat ditemui di sela acara The Islamic Economics Winter Course (IEWC) di Institut Pertanian Bogor (IPB), Senin (14/10/2019).

Sementara, katanya, tingkat literasi keuangan syariah berada di angka 11 persen. Ini artinya, literasi itu hanya 1 dari 10 orang Indonesia yang mengerti dan paham tentang keuangan syariah.

Dari yang mengerti ini, menurutnya, tidak semuanya juga investasi atau menabung di perbankan syariah. Karena ada juga sebagian dari mereka yang rasional.

Karena, jelas dia, nasabah keuangan syariah itu secara umum ada yang loyalis syariah, konvensional dan rasional. “Nah, rasional ini semacam wings potter. Jadi, kalau benefit dan rate-nya lebih bagus dia baru akan investasi. Kondisinya hari ini kalau kita lihat yang loyalis syariah masih kecil,” tukasnya.

Hal ini, menurutnya menjadi tugas pemerintah dan semua pihak, yakni bagaimana memperbesar volume dan benefit  keuangan syariah. Sehingga, kemudian masyarakat bisa merasakan perbedaan transaksi dengan keuangan konvensional dan syariah.

“Secara umum, keuangan syariah kita terus berkembang tumbuh. Cuma yang kita perlukan itu bukan sekadar tumbuh, tapi pertumbuhannya signifikan lebih besar lagi dari yang ada sekarang,” pungkasnya.

Lihat juga...