hut

Lahan Pertanian di Pulau Pemana Sikka Terus Menyusut

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Pertumbuhan penduduk di Pulau Pemana yang merupakan salah satu pulau yang dihuni di kabupaten Sikka NTT sangat pesat dan menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah desa.

Kepala desa Pemana kecamatan Alok kabupaten Sikka, NTT, La Ampo. Foto : Ebed de Rosary

“Pertumbuhan penduduk desa Pemana saja dalam setahun rata-rata sebanyak 40 kepala keluarga,” ujar kepala desa Pemana, kecamatan Alok,kabupaten Sikka, NTT, Senin (21/10/2019).

Angka kelahiran penduduknya kata La Ampo sebanyak 86 dan kematian 27 selama setahun. Ini menunjukan pertumbuhan penduduk yang pesat sehingga perlu diatur lahan untuk pemukiman.

“Areal pemukiman di desa Pemana saat ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk dibangun pemukiman baru. Makanya, banyak pemukiman yang mulai dibangun ke arah barat wilayah desa,” sebutnya.

Wilayah barat seluas 167 hektare ini ujar La Ampo, merupakan lahan pertanian milik masyarakat. Dengan adanya pemanfaatan lahan pertanian untuk pemukiman tersebut maka harapan hidup di sektor pertanian mulai menurun.

“Sebanyak 21 persen masyarakat desa Pemana hidup dari pertanian. Dengan adanya perluasan pemukiman maka penduduk yang hidup dari pertanian akan berkurang menjadi 15 persen saja dalam beberapa tahun,” terangnya.

Lahan pertanian di desa Pemana dan Gunung Sari kata La Ampo, banyak ditanami padi, jagung dan ubi kayu saat musim hujan. Hasilnya pun lumayan untuk dikonsumsi sendiri.

“Untuk mengatasinya, pemerintah desa ingin mengembangkan sektor pariwisata sebagai pendapatan bagi masyarakat. Hal ini mengingat pendapatan dari sektor pertanin menurun drastis akibat berkurangnya lahan pertanian,” sebutnya.

Di pulau Anano kata La Ampo, terdapat sumur air tawar dimana berbeda dengan pulau Pemana yang kesulitan air bersih. Masyarakat desa Pemana biasa mengambil air bersih di desa Gunung Sari.

“Satu drum air dibeli seharga Rp80 ribu dan pernah ada kerjasama antara desa Pemana dan Gunung sari namun batal karena debit air di Gunung Sarijuga sangat kecil,” ungkapnya.

Sementara itu Udin warga pulau Pemana yang ditanyai mengatakan, masyarakat Pemana memang masih mengandalkan hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Biasanya saat musim hujan masyarakat mengurus kebun apalagi saat musim angin kencang sekitar bulan November sampai Februari dimana nelayan libur melaut,” ucapnya.

Dengan begitu nelayan kata Udin, bisa mengurus kebun dengan menanam padi ladang, jagung dan ubi kayu untuk dikonsumsi sendiri. Lahan pertaniannya pun lumayan menjanjikan bila diolah dengan baik.

Lihat juga...