Meski Kemarau, Petani di Lamsel Masih Bisa Panen Padi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Meski kemarau, sejumlah petani di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) masih bisa memperoleh hasil panen. Salah satu caranya dengan memanfaatkan sumur bor, untuk mencukupi kebutuhan air. Hasran Hadi, petani di Desa Sidoharjo, Kecamatan Way Panji, mengaku memanfaatkan sumur bor untuk pengairan selama kemarau atau gadu.

Pada lahan seluas setengah hektare, ia masih bisa memanen sebanyak 28 karung. Jumlah tersebut lebih sedikit dibanding masa tanam penghujan atau rendengan sebanyak 45 karung.

Penurunan produksi padi varietas Muncul Sang Hyang Sri sebanyak 17 karung, disebabkan kurangnya pasokan air. Meski memiliki fasilitas sumur bor dengan diameter 8 inchi, namun debit air menyusut selama kemarau. Pada kondisi normal, sumur bor miliknya bisa mengaliri air seluas setengah hektare selama satu jam. Namun selama kemarau, ia harus menunggu selama dua jam karena debit air menyusut.

Selain kurangnya pasokan air, Hasran Hadi menyebut hama tikus ikut menurunkan produksi padi pada lahan sawahnya. Meski sudah melakukan dua kali pemupukan sebanyak 7 kuintal, di antaranya 3 kuintal pupuk Urea dan 4 kuintal pupuk NPK, produksi padi tetap tidak maksimal.

Hasran Hadi, petani padi di Desa Sidoharjo, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan, melakukan panen saat musim tanam gadu, Senin (7/10/2019). -Foto: Henk Widi

Meski hasil minim, dibandingkan sejumlah petani lain di Lamsel yang gagal panen (puso), ia masih mendapatkan gabah kering panen (GKP).

“Berbagai langkah untuk peningkatan produktivitas padi telah dilakukan, namun karena pasokan air kurang, bulir padi kurang berisi imbas hama tikus,” ungkap Hasran Hadi, Senin (7/10/2019).

Memanfaatkan sistem irigasi swadaya, Hasran Hadi menyebut selama musim tanam gadu sebagian petani masih bisa panen. Hasil panen 28 karung disebutnya dengan rata-rata per karung, ia mendapatkan hasil GKP sebanyak 2,2 ton. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan saat kondisi normal, yang bisa mendapatkan hasil 45 karung GKP dengan bobot 3,6 ton.

Pada masa panen sebelumnya, dengan hasil panen sebanyak 45 karung, ia masih bisa menjual sekitar 22 karung. Namun saat hasil panen berkurang, ia memilih menyimpan hasil panen untuk stok hingga musim panen berikutnya.

Meski harga GKP di tingkat petani pada masa tanam gadu mencapai Rp4.800 per kilogram atau Rp480.000 per kuintal, ia memilih menyimpan hasil panen di gudang miliknya.

“Lebih baik menyimpan gabah untuk cadangan, karena hasil panen tidak maksimal, cukup untuk kebutuhan harian tidak perlu beli beras,” ungkapnya.

Hasran Hadi menyebut, selama dua tahun terakhir aktivitas pertanian padi mulai memakai sistem modern. Sistem pengolahan hingga pemanenan memakai alat dan mesin pertanian (alsintan).

Pengolahan lahan dilakukan memakai traktor tangan (hand tractor), penyemprotan hama memakai alat sprayer bertenaga baterai dan pemanenan memakai combine harvester.

Sistem pengairan yang sulit mendapatkan pasokan air irigasi dipenuhi dengan mesin pompa dari sumur bor. Modal untuk tetap bisa menanam padi selama musim kemarau, cukup besar. Meski demikian dengan modal pembuatan sumur bor hingga mencapai Rp7 juta, ia masih bisa menanam saat kemarau.

Penggunaan mesin traktor dengan sistem sewa dilakukan untuk mempercepat pengolahan lahan.  Saat panen dengan combine harvester, meski mengeluarkan biaya sewa borongan hingga Rp1 juta, ia masih bisa melakukan efesiensi biaya.

Pentingnya kebutuhan air saat musim kemarau menurut Hasran Hadi, membuat ia berencana menambah sumur bor, yang isa menjadi investasi jangka panjang. Selain bisa dipergunakan untuk pengairan saat kemarau, air bersih bisa dibutuhkan untuk keperluan sehari-hari.

“Kendala pasokan air yang dipenuhi secara swadaya oleh petani, membuat petani bisa menanam padi tiga kali dalam setahun tanpa terkendala kemarau,” pungkasnya.

Lihat juga...