hut

Meski Kemarau, Warga Desa Mekarsari Sukses Manfaatkan Lahan Gambut

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Lahan gambut di Lampung Selatan sukses dimanfaatkan untuk menanam singkong (Manihot esculenfa).

Mukamir, petani lagan gambut di Desa Mekarsari, Kecamatan Pasir Sakti menyebut, singkong yang ditanam jenis singkong ketan dan varietas UJ-3. Komoditasnya lebih dikenal dengan singkong Thailand. Pemanfaatan lahan gambut menggunakan pupuk kandang, pembuatan guludan. Bibit yang ditanam Februari silam, setelah sembilan bulan akhirnya bisa dipanen. Singkong produksi lahan gambut berkualitas baik. Untuk menurunkan kadar asam lahan gambut, digunakan dolomit atau zat kapur dan pupuk urea.

Pada musim kemarau, permintaan singkong Thailand cukup tinggi untuk bahan gaplek dan tiwul. “Proses pengeringan yang mudah saat kemarau membuat singkong banyak dicari,” ungkap Mukamir saat ditemui Cendana News tengah memanen singkong miliknya, Kamis (17/10/2019).

Saat ini sebagian lahan gambut di wilayah tersebut kering bahkan ada yang terbakar. Upaya meminimalisir kebakaran dilakukan dengan membuat tanggul. Singkong pada masa panen raya dijual Rp500 perkilogram. Kini saat kemarau, harga melonjak dua kali lipat.

Tarsa, petani singkong thailand sedang memanen di lahan gambut miliknya, Kamis (17/10/2019) – Foto Henk Widi

Petani lain di Desa Jukio, Kecamatan Gunung Pelindung, Tarsan, menyebut singkong menjadi tabungan saat kemarau. Ia menanam singkong di lahan gambut seluas satu hektare. “Kami tidak khawatir, singkong Thailand selalu ada pembeli, kalau harga pabrik murah kami langsung jual ke produsen,” tegasnya.

Varietas UJ-3 atau Singkong Thailand disebut Tarsan, mudah dalam perawatan. Usai penanaman, hanya melakukan perawatan dengan penyiangan gulma dan pemberian pupuk.

Lihat juga...